Wasiat Lukman kepada Anaknya


Telah Allah abadikan nama seorang manusia dalam Al-Qur’an, menjadi nama surat. Si empunya memiliki khulukul karimah. Sesosok laki-laki bukan Nabi maupun Rasul yang nasihatnya menjadi pembelajaran bagi ummat ini, khususnya para orang tua dalam mentarbiyah anaknya.

Ialah Lukman, budak sahaya dari Habasyah, berkulit hitam. Disebutkan dalam nash shahih, diriwayatkan Ath-Thabari, sanadnya shahih hingga Sa’id bin Musayyib rahimallahu ta’ala ‘anhu bahwa ada orang yang berkulit hitam datang kepadanya. Lalu Sa’id berkata, “Jangan kau sedih karena kau berkulit hitam. Ada tiga orang terbaik yang berkulit hitam, yaitu Bilal, Mahja’ (maula Umar bin Khattab) dan Lukman.”

Ibnu Katsir menjelaskan perihal Lukman, “Dia seorang ahli ibadah, memiliki tutur kata indah, dan hikmah yang agung. Menurut keterangan yang masyhur, ia orang bijak, wali dan bukan Nabi.”

Dengan demikian, Lukman adalah seorang bijak yang memiliki hikmah yang menyebar luas hingga ke tanah Arab. Seperti yang tampak jelas dari hadits tentang kisah keislaman Suwaid bin Shamit, dituturkan Ibnu Hisyam dalam As-Sirah (1/424-425). Di antara kata-kata yang disampaikan Suwaid kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah itu Nabi salallahu’alaihi wa sallam berkata, “Itu kata-kata yang baik, dan yang aku miliki lebih baik, yaitu Al-Qur’an yang Allah turunkan kepadaku sebagai petunjuk dan cahaya.” Nabi salallahu ‘alaihi wa sallam mengajak Suwaid masuk Islam. Kisah ini memberikan kesan tentang banyaknya bangsa yang kagum pada kata-kata hikmah yang diucapkan Luqman. Hingga ditulis dalam kitab tersendiri yang disebarkan berbagai bangsa.

Al-Qurtubhi rahimahullah ta’ala ‘anhu menyatakan dalam tafsirnya (XIV/61), “Lukman adalah seorang yang bijak karena hikmah Allah. Hikmah adalah keyakinan yang benar, pemahaman dalam agama dan akal. Kandungan dan petunjuk hikmah adalah bersyukur kepada Allah. Lukman mengetahui hak Rabbnya atas nikmat yang wajib ia tunaikan. Karenanya ia termasuk golongan orang-orang yang bersyukur. Mengikat nikmat hanya bisa dilakukan dengan syukur. Sedangkan orang paling bodoh adalah orang yang menentang hikmah dan tidak memiliki simpanan rasa syukur untuk bertemu Allah kelak. Sehingga ia menyia-nyiakan seluruh nikmat yang Allah berikan kepadanya tanpa ia sadari.”

Lukman menyampaikan beberapa nasihat kepada anaknya yang mencakup urusan mengutamakan tauhid, berbuat baik kepada orang tua, muraqabatullah dan wasiat ibadah. Wasiat terakhirnya adalah tentang cara agar anaknya kelak menjadi seorang alim seperti dirinya, da’i yang bijak, dan tentunya kader Allah di muka bumi. Sehingga kelak ia bisa menjadi teladan bagi ummat ini.

Terlebih dahulu ia menasihati anaknya untuk bersabar dan rendah hati. Berikutnya melarang anaknya untuk memalingkan muka seperti orang sombong ketika bertatap dengan orang lain.

Lukman meminta anaknya berjalan dengan sederhana. Kesederhanaan dalam berjalan termasuk salah satu ciri hamba Allah yang Maha Pemurah. Ia tidak berjalan terlalu lembek seperti orang mati dan tidak pula sangat cepat seperti tergesa-gesa. Seseorang sering kali mencerminkan kepribadian dan kondisi kejiwaannya dari kondisi ketika ia berjalan.

Orang yang berjalan dengan cepat memiliki kepribadian dan kondisi kejiwaan yang tegang dan tidak dapat mengatasi segala persoalan dengan tenang. Berbeda dengan orang yang berjalan dengan sederhana yang umumnya memiliki akal yang bijak dan tenang. Orang lain menghormati pemikirannya dan meminta pendapatnya terkait segala persoalan mereka.

Beberapa perkataan Lukman terangkum dalam kitab karangan Dr. Hamid Ahmad Thahir, “Wahai anakku, bertakwalah kepada Allah. Janganlah memperlihatkan kepada semua orang bahwa kau takut kepada Allah, dengan maksud agar mereka memuliakanmu dan hatimu keji.”

“Diam itu hikmah, dan sedikit sekali orang yang melakukannya.”

“Wahai anakku, jangan berharap mendapatkan kasih sayang dari orang bodoh sehingga ia melihat seakan kau menyukai perbuatannya. Dan jangan menyepelekan murka orang bijak, sehingga membuatmu tidak memerlukannya.”

Berbagai kisah tentang Lukman juga ditulis oleh para ulama’ dalam berbagai judul kitab (buku). Nasihat yang paling baik ialah yang bersumber dari perkataan dan amalan orang-orang shalih, yang lebih dahulu hidup lama sebelum kita. Tidak terpungkiri sifat ketawadhu’annya, juga qana’ahnya. Alangkah baiknya jika kita bisa mengambil hikmah dari setiap kisah dari para salaf yang sudah teruji ketakwaannya juga sifat muraqabatullahnya. Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *