Kekuatan Niat


Niat artinya menginginkan sesuatu atau bermaksud melakukan sesuatu. Niat letaknya dalam hati. Sebagaimana Syeikh Islam Ibnu Taimiyah berkata:

وَالنِّيَّةُ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ ؛ فَإِنْ نَوَى بِقَلْبِهِ وَلَمْ يَتَكَلَّمْ بِلِسَانِهِ أَجْزَأَتْهُ النِّيَّةُ بِاتِّفَاقِهِمْ

“Niat itu letaknya di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama.”(Majmu’ Al Fatawa, 18/262)

Beliau menjelaskan, “Siapa saja yang menginginkan melakukan sesuatu, maka secara pasti ia telah berniat. Semisal di hadapannya disodorkan makanan, lalu ia punya keinginan untuk menyantapnya, maka ketika itu pasti ia telah berniat. Demikian ketika ia ingin berkendaraan atau melakukan perbuatan lainnya. Bahkan jika seseorang dibebani suatu amalan lantas dikatakan tidak berniat, maka sungguh ini adalah pembebanan yang mustahil dilakukan. Karena setiap orang yang hendak melakukan suatu amalan yang disyariatkan atau tidak disyariatkan pasti ilmunya telah mendahuluinya dalam hatinya. Inilah yang namanya niat.”

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya”.

Arti dari niat di atas adalah pengkhususan. Niat bisa berarti power atau kekuatan seseorang untuk melakukan sesuatu dengan tujuan tertentu. Jika seseorang meniatkan suatu amalan untuk qurbah (ibadah dan pendekatan diri kepada Allah) maka pelakunya akan merasa memiliki semangat atau kekuatan karena akan mendapat balasan berupa pahala. Bahkan bukan hanya sebatas amalan yang disyariatkan, aktivitas harian yang tidak disyariatkan seperti makan, minum, mandi, berkendaraan, bekerja dan lain-lain juga dihitung ibadah dan mendapat pahala dari Allah.

Seseorang tidak akan mendapatkan sesuatu dari amalan yang dilakukannya melainkan dengan yang diniatkannya. Jika amalan atau aktivitas yang dia lakukan untuk mendapatkan suatu kebaikan maka dia akan mendapatkan kebaikan atau pahala. Sebaliknya jika seseorang tersebut berniat buruk maka dia akan mendapatkan keburukan atau dosa.

Terkadang kita sebagai seorang wanita merasa bosan, lelah dengan rutinitas aktivitas ibu rumah tangga yang tiada habisnya. Dari mencuci, menyetrika, menyapu, mengepel, memasak, mengurus rumah. Bahkan merasa rempong sambil mengurus anak, melayani suami, menyiapkan anak ke sekolah dan seabrek aktivitas yang menggunung berada di depan mata. Kadang kita mikir aktivitas itu hanya urusan dapur, kasur dan sumur.

Tetapi ketahuilah saudariku! Jika segala aktivitas kita yang sepele itu dilakukan untuk kebaikan karena qurbah untuk ibadah mendekatkan diri kepada Allah, ketika melakukannya akan terasa ringan karena memiliki kekuatan. Kita yakin bahwa yang dilakukan bukanlah hal yang sia-sia, yaitu untuk mengharap pahala di sisi-Nya.

Sebagaimana kisah shahabiyah Asma binti Yazid. Suatu ketika Asma’ mendatangi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah yang ada di belakangku. Mereka berpendapat sesuai dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan wanita, kemudian kami beriman dan membai’at Anda.

Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum laki-laki dan tempat menyalurkan syahwatnya. Kamilah yang mengandung anak-anak mereka. Akan tetapi kaum laki-laki mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat Jum’at, mengantarkan jenazah, dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta dan mendidik anak-anak mereka. Maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh kepada para sahabat dan bersabda, “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang agama yang lebih baik dari yang dia tanyakan?”

Para sahabat menjawab, “Benar, kami belum pernah mendengarnya ya, Rasulullah”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah wahai Asma’ dan beritahukan kepada para wanita yang berada di belakangmu bahwa perlakuan baik salah seorang di antara mereka kepada suaminya, upayanya untuk mendapat keridhaan suaminya, dan ketundukkannya untuk senantiasa mentaati suami, itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum laki-laki.”

Maka kembalilah Asma’ sambil bertahlil dan bertakbir merasa gembira dengan yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Muslim)

Dari cerita di atas sangatlah jelas bahwa aktivitas harian kita di rumah sebagai ibu rumah tangga nilainya sangat tinggi. Kebanyakan orang menganggap sebelah mata tetapi di hadapan Allah dianggap mulia. Bahkan pahalanya sama dengan pahala jihad, shalat Jum’at, mengantarkan jenazah, berdakwah dan amalan lain yang dilakukan oleh suami kita. Inilah yang disebut dengan “The Power of Niat ” artinya kekuatan niat dalam sebuah amalan.

Tentunya dengan syarat aktivitas yang kita lakukan diniatkan untuk ibadah. Maka kita akan mendapatkan kekuatan dan rasa semangat. Kekuatan niat akan memberikan support (dorongan, ed) bagi pelakunya dalam menjalankan aktivitas. Jika aktivitas diniatkan ibadah karena Allah, Insya Allah semua aktivitas yang berat terasa ringan, aktivitas besar menjadi kecil dan aktivitas yang sulit menjadi mudah. Karena lelah kita hanya lillah.

Maka dari itu saudariku, mulai sekarang ketika kita hendak melakukan aktivitas, apapun aktivitas kita baik itu disyariatkan atau tidak, jangan lupa perbaharui niat. Niat ibadah ikhlas karena Allah. Suatu amalan itu dinilai sesuai dengan niatnya. Niat merupakan kekuatan untuk beraktivitas agar semangat. Dengan niat itulah, seseorang akan mendapatkan pahala sesuai dengan yang diniatkannya. Jadikanlah lelah kita hanya lillah. Insya Allah semuanya akan menjadi lebih mudah.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *