Thibbun Nabawi Rujukan Pengobatan Utama


Sistem pengobatan di dunia sudah berkembang sedemikian rupa sehingga terurai pada beberapa aliran. Ada pengobatan modern yang di tandai dengan penelitian dan kajian ilmiah kedokteran ala barat. Ada pengobatan timur yang berbasis pada warisan ilmu turun temurun berupa olahan herbal alami dan tindakan rangsangan tubuh. Ada pengobatan komplementer yang berupa menggabungkan keduanya. Ada pengibatan holistik yang menyembuhkan tak hanya rasa sakit.

Thibbun Nabawi Rujukan Pengobatan Utama

Akhir-akhir ini kata thibbun nabawi memang diartikan secara sederhana sebagai pengobatan ala nabi, di mana pengobatan ini dikatakan pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw atau dilakukan oleh sahabat, atas rekomendasi beliau, atau dilakukan oleh sahabat dan tidak mendapat larangan dari Rasul.

Maka mengerucutlah pengobatan thibbun Nabawi ini pada lima hal yang paling ngetren; pengobatan dengan berbekam, dengan al-kay, dengan mengkonsumsi madu, jintan hitam (habatus sauda) serta rukyah.

Thibbun Nabawi, pengobatan berbasis syariah

Namun kalau kita melihat kembali ada definisi thibbun nabawi ini dari Syaikhul imam ibnu Qayyim sebagai sosok yang mempopulerkan istilah ini lewat bukunya Ath-thibbun Nabawi, makna thibbun nabawi ini ternyata begitu luas.

Pertama, thibbun nabawi adalah pengobatan yang memakai alat, bahan,metode dan cara kerja seperti pada zaman Nabi. Kedua, thibbun nabawi adalah pengobatan yang diamalkan atau ditetapkan para nabi, sahabat,tabbin, dan para pengikutnya. Ketiga, thabbun nabawi adalah pengobatan yang menjaga akal, nasab, jiwa dan jasad dan kehormatan manusia. Keempat, thibbun nabawi adalah tata cara pengobatan yang tidak bercampur dengan sesuatu yang haram, syirik, khurafat, atau bi’dah. Dan kelima, thibbun nabawi adalah segala pengobatan yang menjadikan Allah sebagai penyembuh dengan tidak mengurangi ketawakalan.

Kalau melihat pada penjelasan ini, maka pengobatan dengan madu, jintan, bekam atau ruqyah hanyalah bagian kecil dari kegiatan thibbun nabawi yang bisa dinyatakan sebagai segala pengobatan yang merujuk pada ketentuan allah dan rasul-Nya atau dengan kata lain pengobatan berbasis syariah.

Ustadz Achmad Junaedi,Lc menjelaskan, kajian fikih menyebutkan bahwa tujuan diturunkannya syariat itu di antaranya adalah untuk menjaga jiwa, akal, agama, jasad dan kehormatan.

Maka, seorang yang melakukan pengobatan thibbun nabawi terikat pula dengan ketentuan-ketentuan syariah semisal tidak memberi obat yang mengandung barang haram, alat yang digunakan tidak berasal dari sesuatu yang dilarang, tidak memakai bantuan jin atau memberi jimat-jimat, hingga segala ketentuan yang berkaitan dengan ahlak dan muamalah seperti tidak melakukan ikhtilat, tidak membiarkan terbukanya aurat tanpa kondisi darurat, dll

Thibbun nabawi pengobatan utama

Karena itu maka memilih segala teknis pengobatan diizinkan sepanjang tidak keluar dari koridor syariah yang berpangkal pada dua hal: pengobatan itu halal dan thayyib dari sisi tata cara atau prosesnya, alatnya maupun bahan bakunya sebagaimana Rasulullah berkata dalam suatu hadisnya “sesungguhnya, Allah, telah menciptakan obat untuk setiap penyakit, maka berobatlah kalian, tetapi jangan berobat dengan sesuatu yang dharamkan.” (Riwayat Abu Dawud)

Meskipun pilihan pengobatan apapun sah-sah saja, namun umat islam sudah seharusnya menjadikan thibbun nabawi sebagai rujukan utama dan pertama setiap kali memilih teknis pengobatan yang dicontohkan Rasulullah saw, atau dicontohkan oleh para sahabat dengan persetujuan Rasullullah,atau pengobatan yang di dasari dari apa-apa yang terdapat dalam ayat ayat Al-Quran Mengapa demikian?

Pertama, karena apa-apa yang datang dari Quran dan sunah RasulNya adalah benar. Al-Quran adalah kalimat Allah sementara sunnah Nabi berlandaskan pada wahyu dari Allah swt. Kedua Al-Quran dan sunnah nabi adalah panduan umat manusia dan kita sendiri diperintahkan Allah untuk taat pada Rasulullah.

“Wahai orang-orang beriman, sambutlah seruan Allah dan Rasul, yanf menyeru kalian dan apa yang menghidupkan kalian. Dan ketahuilah sesungguhnya Allah menghalangi seseorang dari hatinya dan bahwa kepada-Nya kalian dikumpulkan.”(Al-Anfal: 24)

“…..apa saja yang dibawa Rasul kepadamu, maka ambilah, dan apa saja yang dilarangnya, maka tinggalkanlah….”(Al-Hasyr: 7)

Karena itu, kata ustadz Junaedi lagi, setiap muslim semestinya tidak menjadikan pengobatan thibbun nabawi hanya sebagai pengobatan alternatif, tetapi justru menjadikan sebagai pengobatan pokok. Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *