Shalat Sarana Komunikasi dengan Allah SWT


Ketika shalat, tidak ada sekat yang membatasi seseorang untuk bertemu, berdialog, dan mengungkapkan segenap perasaannya kepada Zat Yang Mahasuci. Tidak perlu perantara, tidak perlu status yang tinggi untuk bertemu dengan-Nya. Walau ia seorang pendosa besar, rakyat jelata, atau orang yang miskin papa, Allah akan tetap menerima kehadiran sang hamba dalam shalat dengan ”tangan terbuka”. Di sinilah shalat dimaknai sebagai bentuk komunikasi yang intens dan dekat antara seorang hamba dan Tuhannya.

Shalat Sarana Komunikasi Dengan Allah

Pada saat membaca al-Fatihah, misalnya, terungkap sebuah dialog penuh makna. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah SWT. berfirman: Hamba-Ku berkata, ”Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” Aku menjawab, ”Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Hamba-Ku berkata, ”Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Aku menjawab, ”Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Hamba-Ku berkata, ”Raja yang menguasai Hari Pembalasan.” Aku menjawab, ”Hamba-Ku telah memuliakan-Ku.”Hamba-Ku berkata, “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” Aku menjawab, ”Ini antara Aku dan hamba-Ku setengah-setengah dan hamba-Ku berhak atas apa yang ia minta.” Hamba-Ku berkata, ”Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.” Aku menjawab, ”Itu semua untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku berhak atas apa yang ia minta.” (H.R. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, at-Turmudzi, ibnu Majah, ibnu Hibban dari Abu Hurairah)

Itulah sebabnya, dalam prosesi shalat, baik sebelum, ketika, dan sesudah shalat, kita dituntut untuk mengondisikan diri agar bisa menjalin hubungan intens dengan-Nya sehingga ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, ciptakan suasana lingkungan yang ikut membantu kekhusyukan. Jangan terlalu gaduh dan banyak gambar di dalam ruangan tempat kita melakukan shalat karena suasana yang seperti itu akan akan mengganggu kekhusyukan. Kedua, kondisikan diri sendiri agar berada dalam kondisi yang baik. Artinya badan harus fit dan bersih sehingga tidak gatal-gatal, tidak kepanasan, dan sebagainya. Ketiga, pahami bahwa dalam beribadah itu kita sedang ber-tadzakkur dan tadabbur, merenungkan kebesaran Allah dan merenungkan makna dari bacaan shalat sehingga bacaan shalat dirasakan sebagai dialog kita dengan Allah SWT., bukan seperti mantra-mantra tanpa makna. Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *