Kematian: Misteri Sepanjang Zaman


Kita itu bagai seorang manusia yang berada di tengah-tengah hamparan padang rumput yang kemudian di kejar-kejar binatang buas. Kita lari sekuat tenaga untuk menghindari kejaran binatang buas tersebut, entah ke mana kita berlari, yang jelas ke mana pun menengok tidak ada satu pun tempat berlindung. Dalam keputusasaan dan kelelahan sampailah kita di sebuah sumur yang cukup dalam dan luas, di sana terlihat ada beberapa dahan pohon yang menjulur ke dalamnya yang dapat dijadikan pegangan. Masuklah kita ke dalam sumur dengan berpegangan ke dahan pohon yang menjulur itu sehingga kita pun selamat dari kejaran sang binatang pemangsa.

Namun sial, binatang yang sedari tadi mengejar-ngejar tampaknya tidak mau begitu saja melepaskan kita sebagai buruannya. Dengan setia ia menunggui kita di atas sumur sehingga tidak mungkin bagi kita untuk naik ke atas lagi. Sialnya lagi, kita mendengar sekian banyak desisan ular berbisa di dalam sumur yang siap mematuk, mencabik-cabik, dan menghancurkan tubuh jika kita sampai jatuh ke dalamnya. Tidak ada harapan lagi selain menunggu dan terus menunggu dalam kecemasan, ketakutan, dan kelelahan hingga datangnya waktu yang tepat bagi kita untuk terjerembab ke dasar sumur.

Ternyata pula di pangkal dahan ada dua ekor tikus hutan berwarna hitam dan putih (menggambarkan malam dan siang) yang dengan asyiknya menggerogoti dahan tersebut. Sedikit demi sedikit kayu itu mulai menipis dan patahnya dahan tempat kita bergelantung tinggal menunggu waktu saja. Akan tetapi, di balik kecemasan, ketakutan, dan ketidakpastian itu, sesekali ada tetes-tetes air dari akar pepohonan yang dapat mengobati rasa dahaga yang mencekik leher kita. Malah, sekali dua kali ada tetes-tetes madu yang mampir ke mulut kita. Itulah karunia yang mampu ia rasakan dalam keadaan yang mencekam itu.
Kematian: Misteri Sepanjang Zaman

Itulah gambaran kehidupan manusia yang diungkapkan oleh Leo Tolstoy, penulis dua novel legendaris War and Peace dan Anna Karenina. Baginya, dalam cerita tersebut, hidup manusia tidak lebih dari pergulatan dalam menunggu kematian. Apa pun yang dilakukan manusia hanya akan berakhir dengan kematian, suka atau tidak suka; mau ataupun tidak mau. Tetes-tetes air dan madu yang terasa menyegarkan analog dengan kesenangan-kesenangan duniawi yang dapat ia rasakan di tengah-tengah kegelisahannya dalam menunggu kematian. Tentu saja itu hanya sementara sifatnya, hanya sekadar hiburan sebelum ia dimakan oleh ular-ular berbisa.
Kematian: Misteri Sepanjang Zaman

Kematian: Misteri Sepanjang Zaman

Boleh jadi, kisah ini menggambarkan apatisme, kegelisahan, dan keputusasaan Tolstoy dalam menghadapi gerbang kematian yang membentang di hadapannya. Di mata para penggemarnya, yang mengenal dia sebagai seorang bangsawan Rusia yang kaya raya dan termasyhur di dunia. Tolstoy sudah berhasil meraih taraf hidup yang nyaris sempurna. Padahal, kenyataan yang sebenarnya berbeda dengan apa yang dibayangkan orang. Di tengah gelimang uang, kekayaan, nama besar, dan popularitas, Tolstoy tetap merasa bahwa ada sesuatu yang dibutuhkan untuk memenuhi kekosongan hidup dan menghibur kepiluan hatinya tidak pernah berhasil ditemukan olehnya. Ia merasa dirinya bagaikan sebutir debu tak berarti yang sedang melayang-layang di tengah-tengah kebesaran dan keluarbiasaan alam semesta. Itulah mengapa, sepanjang hidupnya sebuah pertanyaan selalu terngiang-ngiang di dalam hatinya: “Apakah sebenarnya tujuan hidupku, yang oleh karena kematian tubuhku tidak dapat dimusnahkan? Mengapa hatiku terus menerus terasa pilu? Apakah makna kehadiranku di dunia?” Pertanyaan tersebut terus-menerus menghantui batin Tolstoy, sehingga akhirnya hampir saja “mencari jawaban” dengan jalan bunuh diri, sebagaimana yang dipaparkan olehnya di dalam sebuah buku yang sangat filosofis “A Confession and What I Believe” dengan terus terang sekali!

Bagi banyak orang, terutama bagi para filsuf dan ilmuwan, kematian adalah misteri kedua yang melibatkan jiwa dan ruh manusia serta hubungannya dengan fisik manusia. Misteri yang pertama adalah kehidupan itu sendiri. Pertanyaan. tentang “bagaimana terjadinya kematian” tidak kalah misteriusnya dengan pertanyaan tentang: “bagaimana terjadinya kehidupan”. Ya, munculnya kehidupan dan proses terjadinya kematian adalah misteri yang tiada pernah berakhir diperbincangkan oleh manusia sepanjang sejarah kehidupan. Munculnya kehidupan masih menjadi teka-teki yang belum terjawab dengan memuaskan. Apalagi periode sebelum munculnya kehidupan.

“Kematian adalah gambaran yang sangat indah. Penuh imajinasi dan penuh realita. Kematian bukan sesuatu yang buruk jika semua manusia mengalami dan menelannya.” — Khalid Muhammad Khalid —

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *