Haji, Puncak dari Perjalanan Hidup


Haji adalah perjalanan seumur hidup. Pernyataan populer ini rupanya menjadi sesuatu yang tampak klise. Tetapi akan ada waktu di mana orang-orang akan menjadikan waktu hidupnya hanya untuk memenuhi impian dan ambisi berhaji, dan untuk banyak orang rupanya sesuatu itu belum dapat direalisasikan. Hal ini rupanya adalah kasus untuk banyak manusia di berbagai belahan dunia. Seiring dengan ini, banyak orang yang mengatakan bahwa Haji belum tentu titik balik kehidupan, tidak semua orang akan menjadi lebih religius setelah Haji, dan untuk orang-orang tersebut, Haji hanyalah merupakan sebuah status dan gelar yang bergengsi.

Haji, Puncak dari Perjalanan Hidup

Bukan berarti orang-orang yang disebutkan di atas adalah orang yang tidak dapat memaknai Haji dan tidak menganggap Haji sebagai sesuatu yang serius. Dan bahkan untuk sebagian orang ini, Haji biasanya hanya memiliki efek yang terbatas yang akan lepas dalam beberapa waktu. Hal ini karena kita hidup di dunia yang terasa cepat pergerakannya, di mana hidup kita semudah klik dan layar yang bergerak (smartphones, tablet, dll), dan kita berharap Haji akan menyelesaikan semua kebutuhan ‘kesalihan’ kita seperti halnya pil. Dan apa yang justru kita gagal pahami adalah bahwa Haji merupakan katalisator dari perubahan dan titik balik hidup kita, yang seharusnya menjadi sesuatu di mana kita menempatkan banyak usaha dan kinerja, dan membutuhkan waktu yang bertahun-tahun.

Mungkin akan ada yang bertanya, apa maksud dari pernyataan di atas? Sangat menarik untuk dicatat bahwa ada dua nabi yang sangat erat kaitannya dengan haji, dan dari mereka lah ibadah haji ini diambil. Yang pertama adalah Nabi Ibrahim AS, dan yang satu lagi adalah Nabi Muhammad SAW. Ketika kita mempelajari kehidupan mereka, kita akan memahami bahwa bagi mereka ibadah haji adalah puncak dari kerja seumur hidup, usaha, pengorbanan dan prestasi, dan sesuatu yang tidak hanya terjadi dalam hitungan minggu atau pun bulan. Mari kita analisa hal ini lebih rinci.

Diceritakan bahwa Nabi Ibrahim AS lahir di Babilonia, dimana ia dibesarkan dalam masyarakat umum yang melakukan paganisme dan penyembahan berhala. Berdasarkan yang dikatakan banyak ahli sejarah, ayahnya Azhar, adalah pembuat dan penjual berhala untuk membiayai kehidupannya. Nabi Ibrahim secara alami menjadi orang yang menjalankan tauhid, yang saat itu merupakan praktik yang dijauhi oleh umatnya. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an tantangan yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim AS.

Hal pertama yang ia lakukan adalah mendekati ayahnya, dengan segala hormat dan kebijaksanaan yang ia miliki, Nabi Ibrahim secara lembut mengajak ayahnya untuk meninggalkan penyembahan terhadap berhala. Allah SAW berfirman di dalam Surah Maryam ayat 41-42, “Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?” Walaupun permintaan tersebut ditujukan terus menerus kepada ayahnya, permintaan tersebut tidak didengar. Sebaliknya ayahnya menjawab, “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”. Maka dari itu, Nabi Ibrahim mendapatkan tantangan pertamanya; diasingkan oleh ayahnya sendiri.

Tidak patah semangat, Nabi Ibrahim AS melanjutkan misi Islam dengan memanggil umat-Nya kembali pada Allah SWT, dan ketika mereka menolak seruannya, ia menunggu untuk menunjukkan kepada mereka bahwa keyakinan yang mereka pegang adalah sia-sia. Lalu kita akan bertemu dengan kisah paling terkenal dari Nabi Ibrahim AS saat ia menghancurkan berhala. “Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.” (QS Al-Anbiya 21:58) Saat Nabi Ibrahim dibawa untuk dipertanyakan perihal berhala itu, Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”. (QS Al-Anbiya 21:63) Meskipun hal tersebut membuktikan kelemahan yang melekat dari berhala-berhala tersebut, orang-orang tersebut tetap keras kepala pada keyakinan mereka, dan justru mereka memilih untuk melemparkan Nabi Ibrahim AS ke dalam kayu bakar. Allah berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. (QS Al-Anbiya 21:69) Dari kisah tersebut, Nabi Ibrahim pun diasingkan tidak hanya oleh ayahnya, tetapi ia juga diusir dari tanahnya.

Ibrahim AS kemudian berkelana ke tanah yang lain, ke Levant yang para ahli sejarah menyatakan bahwa orang-orang di sana menyembah bintang. Kemudian Nabi Ibrahim berdebat dengan mereka menggunakan logika seperti yang ia lakukan dengan ayahnya dan kaumnya. “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” (QS Al-An’am 6:75). Ibrahim pun menyebutkan kepada kaum-nya bahwa sia-sia menyembah bintang, bulan, matahari. Sebaliknya Nabi Ibrahim menyatakan,“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS Al-An’am 6:79)

Dengan demikian, Nabi Ibrahim AS menemukan banyak tantangan demi tantangan termasuk menghadapi pemimpin tiran pada masanya, Namrud. Allah SWT akhirnya memberikan kepada Ibrahim AS seorang anak yang ia inginkan dalam waktu yang sangat panjang. Setelah itu, Ibrahim AS diperintahkan untuk membawa istrinya dan anaknya yang baru lahir ke padang pasir di Mekkah, dan meninggalkan mereka di sana. Sebuah tanah dimana tidak ada makanan, minuman, tempat berlindung, dan manusia. Dan bahkan tempat itu bukanlah tempat yang normal untuk dikunjungi orang-orang dari waktu ke waktu. Ibrahim AS mematuhi perintah Allah SWT, dan berkurban demi diri-Nya. Yang merupakan sebuah tugas yang tidak mungkin untuk dilaksanakan pada kondisi seperti itu, tetapi merupakan sebuah bukti yang membuktikan keimanan Nabi Ibrahim AS.

Allah SWT menyediakan Ismail AS dan ibunya, dan beberapa kelompok manusia untuk tinggal di sana. Mekkah akhirnya berkembang menjadi kota, dan bayi Ismail juga tumbuh menjadi seorang pemuda. Ayahnya, Ibrahim AS kembali dengan mimpi menyembelih putranya. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS As-Saffat 37:102) Sekali lagi, Allah mengganjar ketaatan Ibrahim AS dengan mengganti Ismail dengan binatang ternak. Ke semua itu lah yang merupakan tantangan untuk Nabi Ibrahim selama perjalanan hidupnya.

Tahun demi tahun telah terlewati, dan Ismail tumbuh menjadi pria dewasa. Ibrahim AS kembali sekali lagi pada usianya yang sudah sangat tua, dan mendapatkan sebuah perintah untuk membangun Ka’bah. Dia meminta Ismail untuk membantunya, Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS Al-Baqarah 2:127)

Dengan demikian, puncak dari prestasi seumur hidup, pengorbanan, dan penyerahan kepada Allah SWT adalah pada saat membangun Ka’bah. Ibrahim AS kemudian diperintahkan untuk melaksanakan Haji.

Dan saat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu di Gua Hira, dia diperintahkan untuk menyerukan Islam kepada keluarganya. Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, (QS As-Shu’ara 26:214) Setelah ini, dia berdiri di Gunung Safa dan secara terbuka mengundang kaumnya dalam agama Islam. Dari sini lah dimulainya penyerangan, ancaman pembunuhan, dan perang.

Para sahabat tertindas, beberapa disiksa, dan yang lainnya dibunuh, beberapa yang lain dipisahkan dari pasangan dan anak-anak mereka, yang lainnya dilucuti hartanya. Rasulullah SAW sendiri diserang, dilempar oleh kotoran unta di punggungnya. Ia dicacimaki, dicemooh, dan banyak sekali percobaan pembunuhan dilaksanakan kepadanya. Kaum Muslim menderiat sanksi ekonomi dan menjalani banyak kesulitan.

Rasulullah pun kehilangan pamannya Abu Thalib, istrinya Khadijah, dua putrinya dan seluruh putranya selama itu. Pamannya yang lain Hamzah mati syahid. Muslim bertarung dalam banyak pertempuran. Rasulullah SAW pun pernah diracuni, hidup dengan hanya sedikit materi selama berminggu-minggu sehingga banyak orang yang lewat di depan rumahnya melihat rumahnya tidak diterangi oleh cahaya api.

Untuk memahami biografi Rasulullah SAW pasti akan memakan banyak waktu. Rangkuman paling baik terkait kehidupan Rasulullah diriwayatkan oleh Aisyah (RA) yang bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Adakah hari lain yang engkau rasakan lebih berat dari hari di perang Uhud?’ tanya Aisyah ra. ‘Ya, memang banyak perkara berat yang aku tanggung dari kaummu itu, dan yang paling berat ialah apa yang aku temui di hari Aqabah dulu itu. Aku meminta perlindungan diriku kepada putera Abdi Yalel bin Abdi Kilai, tetapi malangnya dia tidak merestui permohonanku! ‘Aku pun pergi dari situ, sedang hatiku sangat sedih, dan mukaku muram sekali, aku terus berjalan dan berjalan, dan aku tidak sadar melainkan sesudah aku sampai di Qarnis-Tsa’alib. Aku pun mengangkat kepalaku, tiba-tiba aku terlihat sekumpulan awan yang telah meneduhkanku, aku lihat lagi, maka aku lihat Malaikat jibril alaihis-salam berada di situ, dia menyeruku: ‘Hai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar apa yang dikatakan kaummu tadi, dan apa yang dijawabnya pula. Sekarang Allah telah mengutus kepadamu bersamaku Malaikat yang bertugas menjaga bukit-bukit ini, maka perintahkanlah dia apa yang engkau hendak dan jika engkau ingin dia menghimpitkan kedua-dua bukit Abu Qubais dan Ahmar ini ke atas mereka, niscaya dia akan melakukannya!‘ Dan bersamaan itu pula Malaikat penjaga bukit-bukit itu menyeru namaku, lalu memberi salam kepadaku, katanya: ‘Hai Muhammad!’ Malaikat itu lalu mengatakan kepadaku apa yang dikatakan oleh Malaikat Jibril AS tadi. ‘Berilah aku perintahmu, jika engkau hendak aku menghimpitkan kedua bukit ini pun niscaya aku akan lakukan!’ ‘Jangan… jangan! Bahkan aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang akan menyembah Allah semata, tidak disekutukanNya dengan apa pun… !’, demikian jawab Nabi SAW.

Jadi, sebagai hasil dari keyakinan dan kepercayaan Rasulullah SAW kepada Allah, kesabaran, ketabahan, pengorbanan, dan kasih sayang yang ia rasakan kepada orang-orang Ta’if membawa mereka akhirnya masuk ke dalam agama Islam, seperti halnya orang-orang Mekah yang menerima Islam setelah Penaklukan Kota Mekah. Setelah lebih dari dua puluh tahun Rasulullah berjuang demi Allah SWT, Rasulullah akhirnya melaksanakan haji pertamanya yang merupakan satu-satunya Haji yang ia laksanakan, dan mengatakan kepada kaumnya, “Mungkin aku tidak akan bertemu dengan kalian lagi setelah ini.” (Ibnu Majah). Sama halnya dengan Nabi Ibrahim AS, Haji yang ia laksanakan hanya sekali yang merupakan puncak dari seluruh kinerja hidupnya.

Setelah merenungkan kehidupan dari dua nabi Allah tersebut, kita seharusnya menjadi sadar bahwa untuk mendapatkan hasil maksimal dari Ibadah Haji, kita pun harus berusaha sangat maksimal. Haji tidak begitu saja didefinisikan sebagai ibadah dalah hitungan waktu dua atau tiga minggu di Saudi Arabia, tetapi persiapan yang harus kita siapkan harus dimulai berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau jika mungkin bertahun-tahun sebelum kita melaksanakan ibadah haji.

Mari kita merenungi kehidupan dua nabi Allah ini, merenungkan betapa besarnya pilar Islam, dan mempersiapkan diri untuk menjadi tamu Allah sehingga Haji kita benar-benar seperti perjalanan seumur hidup. Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *