Doa sebagai Media Penyembuhan


Bagi seorang Muslim, zikir dan doa merupakan salah satu bentuk komitmen keagamaan dan keimanannya kepada Allah Swt. Doa adalah permohonan yang dimunajatkan ke hadirat Allah, Zat Yang Mahakuasa, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sedangkan zikir adalah mengingat Allah Swt. dengan segala sifat-sifat-Nya. Dengan demikian, zikir dan doa dapat dimaknai sebagai suatu amalan dalam bentuk kata-kata yang diucapkan secara lisan ataupun dalam hati yang berisikan permohonan kepada Allah Swt. dengan selalu mengingat nama-nama dan sifat-Nya. Sebenarnya, zikir itu sendiri tidak terbatas pada bacaan zikirnya (dalam arti sempit), melainkan meliputi segala bacaan, tindakan, dan segala amal kebaikan yang diperintahkan oleh agama.

Doa sebagai Media Penyembuhan

Dipandang dari sudut kesehatan jiwa, menurut Prof. Dr. Dadang Hawari, Psi., zikir dan doa mengandung unsur psikoterapeutik yang mendalam. Terapi psikoreligius tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan psikoterapi psikiatrik, karena ia mengandung kekuatan spiritual atau keruhanian yang membangkitkan rasa percaya diri dan rasa optimisme. Dua hal ini, yaitu rasa percaya diri (self confident) dan optimisme merupakan dua hal yang amat esensial bagi penyembuhan suatu penyakit di samping obat-obatan dan tindakan medis lainnya.

Suatu survey yang dilakukan oleh Majalah TIME dan CNN serta USA Weekend (1996), menyatakan bahwa lebih dari 70 pasien percaya bahwa keimanan terhadap Yang Maha Esa, zikir dan doa dapat membantu mempercepat proses penyembuhan penyakit. Sementara itu lebih dari 64 persen pasien menyatakan bahwa para dokter hendaknya juga memberikan terapi keagamaan (terapi psikoreligius) antara lain dalam bentuk berzikir dan berdoa.

Dari penelitian ini terungkap bahwa sebenarnya para pasien membutuhkan terapi keagamaan, selain terapi dengan obat-obatan dan tindakan medis lainnya. Di tempat lain, Levin (1996) dari Eastern Virginia Medical School melakukan studi terhadap 393 pasien jantung di San Fransisco, untuk mengetahui sejauh mana efektivitas zikir dan doa. Kelompok pasien jantung dibagi dalam dua kelompok secara acak (random), yaitu kelompok mereka yang memperoleh terapi zikir dan doa dan kelompok mereka yang tidak. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok mereka yang memperoleh terapi zikir dan doa, ternyata sedikit sekali mengalami komplikasi sementara kelompok mereka yang tidak memperoleh terapi zikir dan doa banyak timbul berbagai komplikasi dari penyakit jantungnya itu.

Bukti lain datang dari penelitian Robbins dan Metzner yang dilakukan selama 8-10 tahun terhadap 2700 responden didapati bahwa responden yang rajin menjalankan ibadah serta berdoa, angka kematiannya jauh lebih rendah dibandingkan yang tidak beribadah. Penelitian Larson dan kawan-kawan terhadap para pasien tekanan darah tinggi dibandingkan pada kelompok kontrol (bukan pasien hipertensi), diperoleh kenyataan bahwa komitmen agama kelompok kontrol lebih kuat. Selanjutnya dikemukakan kegiatan keagamaan seperti doa dapat mencegah seseorang dari penyakit hipertensi.

Larry Dossey, MD., seorang dokter dari Mexico, menjelaskan bahwa dalam sejumlah penelitian tentang doa menunjukkan bahwa doa dapat menyembuhkan. Jarak tidak mempengaruhi dalam kemanjuran doa, apakah doa tersebut dilakukan di dekat pembaringan pasien, di luar kamar, atau di seberang lautan. Dalam bukunya Healing Words dia menulis sebagai berikut: “Penyembuhan yang berkaitan dengan doa, yang menjadi pusat perhatian buku ini merupakan suatu terapi murni Era III Mengapa tak terikat tempat? Setelah banyak melakukan penelitian, saya tidak bisa menemukan seorang pakar pun yang mau mengatakan bahwa tingkat pemisahan jarak antara orang yang berdoa dengan pasien merupakan factor dalam hal kemanjurannya. Orang-orang yang mempraktikkan penyembuhan melalui doa semuanya mengatakan bahwa pengaruh-pengaruh doa tidak dipengaruhi oleh jarak, doa itu sama manjurnya walaupun yang berdoa dan yang menjadi tujuan doa terpisah oleh samudera atau ada di balik pintu atau cuma di sisi tempat tidur”.

Studi terhadap sekelompok orang memperlihatkan bahwa doa secara positif mempengaruhi tekanan darah tinggi, luka, serangan jantung, sakit kepala, dan kecemasan. Subyek‑subyek dalam studi ini mencakup pula air, enzim, bakteri, jamur ragi, sel-sel darah merah, sel-sel kanker, sel-sel pemacu, benih, tumbuhan, ganggang, larva, ngengat, tikus, dan anak ayam; dan di antara proses‑proses yang telah dipengaruhi adalah proses kegiatan enzim, laju pertumbuhan sel darah putih leukemia, laju mutasi bakteri, pengecambahan dan laju pertumbuhan berbagai macam benih, laju penyumbatan sel pemacu, laju penyembuhan luka, besarnya gondok dan tumor, waktu yang dibutuhkan untuk bangun dari pembiusan total, efek otonomi seperti kegiatan elektrodermal kulit, laju hemolisis sel‑sel darah merah, dan kadar hemoglobin.

Untuk menguatkan studi-studi di atas, Linda 0’Riordan RN, Pendiri dan Direktur Healthy Potentials, sebuah organisasi kesehatan integrative di Amerika Serikat dalam bukunya The Art of Sufi Healing menyatakan bahwa artikel‑artikel penelitian tentang pengaruh yang terukur dari doa mulai diterbitkan dalam jurnal profesional. Sebuah studi di VSCF Medical Center baru-baru ini menemukan bahwa pasien operasi jantung yang didoakan oleh orang lain tampak jauh lebih mampu bertahan, pasien tersebut juga mengalami komplikasi yang lebih sedikit dan lebih singkat waktu perawatannya. Studi lain mengindikasikan bahwa orang yang berdoa teratur merasa lebih baik dan lebih merasa damai. Frekuensi doa sama halnya dengan frekuensi membaca kitab suci, memiliki korelasi positif dengan kesehatan semakin sering berdoa, kualitas kesehatannya pun semakin baik. Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *