Meraih Kenikmatan Tilawah Al-Qur’an


Para ulama merekomendasikan sepuluh adab saat tilawah Al Quran yang bisa melahirkan suasana nikmat dalam melaksanakannya:

1. Mengerti dan memahami keagungan firman Allah Swt yang dibaca. Memahami bahwa Al Quran adalah firman Allah Maha Agung, yang diturunkan dari Arasy kemulian-Nya untuk makhlukNya. Meresapi bagaimana kebaikan, kelembutan, kasih sayang Allah Swt yang telah memberikan firman-firmannya kepada hamba-hamba-Nya.

2. Hendaknya orang yang membaca Al Quran menghadirkan dalam hatinya suasana mengagungkan Allah Swt yang berfirman melalui Al Quran yang dibacanya. Meresapi firman Allah Swt. “Laa yamassuhuu illal muthahharuun.” Tidak ada yang menyentuhnya kecuali makhluk Allah yang suci. Itu sebabnya sebagian ulama mensyaratkan bersuci untuk sekadar memegang mushaf bahkan sampul mushaf Al Quran sekalipun. Kemudian, tidak semua lisan bebas membaca huruf-huruf Al Quranul Karim, kecuali lisan yang dalam kondisi bersih dari dosa dan kekotoran. Para ulama bahkan menambahkan, tidak semua hati yang bisa menerima sentuhan Al Quran.

3. Konsentrasi dan meninggalkan cetusan hati, kecuali Al Quran (hudhuru al qalb). Sebagian salafushalih mengulang-ulang bacaan ayat tertentu, bila mereka merasa kurang konsentrasi terhadap ayat yang mereka baca. Kondisi ini sangat terkait dengan sifat ta’zhiim atau mengagungkan Allah Swt.

4. At Tadabbur atau merenungi kandungan ayat yang dibaca. Saat seseorang membaca Al Quran dan tidak berpikir apapun kecuali Al Quran dan hanya mendengarkan Al Quran, maka ia akan dapat merenungi dan meresapi kandungan ayat yang dibaca dan didengarnya. Karena itu, disunnahkan membaca Al Quran dengan zahir agar bisa lebih mudah ditadabburi oleh hati. Ali ra. Mengatakan, “Tidak ada kebaikan dalam ibadah yang tidak dipahami dan tidak ada kebaikan dalam bacaan yang tidak ditadabburi.’

5. Tafahhum atau berusaha memahami ayat yang dibaca dengan menggalinya lebih jauh, baik saat menyebut sifat-sifat Allah Swt, menceritakan kondisi para Nabi, menyebutkan akibat orang-orang yang mendustakan firman Allah Swt, menceritakan tentang surga dan neraka dan sebagainya.

6. Menghindari beragam kendala yang menghalangi upaya untuk memahami ayat yang dibaca. Ada banyak orang yang akhirnya tidak bisa memperhatikan kandungan ayat yang dibaca karena tiga sebab:

– Berlebihan dalam memerhatikan cara pengucapan huruf atau makhraj huruf. Mengucapkan huruf sesuai makhrajnya tentu sangat dianjurkan. Tapi, berlebihan memerhatikannya bisa menjadikan setan menunggangi kondisi tersebut, dengan mengalihkan perhatian orang yang membaca Al Quran dari makna dan kandungan Al Quran.

– Berlebihan mengikuti mazhab atau aliran bacaan atau nada tertentu dalam membaca Al Quran

– Sering mengulang dosa yang sudah dilakukan. Karenanya hati menjadi keruh dan kasar sehingga sulit memahami firman-firman Allah Swt.

7. Menganggap apa yang disampaikan dalam Al Quran seperti berbicara pada diri kita sendiri (at takhshiish). Saat membaca ayat yang berisi tentang perinta atau larang, maka perintah atau larangan itu seolah ditujukan pada kita yang membaca firman Allah Swt itu.

8. Menumbuhkan keterpengaruhan Al Quran terhadap jiwa. Berkata Al Hasan Al Bashri rahimahullah, “Demi Allah, seorang hamba yang membaca Al Quran dan mengimaninya, pasti akan banyak merasakan kedukaan dan sedikit bahagianya, banyak menangis, sedikit tertawa, banyak kesibukannya dan sedikit istirahatnya”. Meski demikian, sebenarnya ayat-ayat Al Quran saat berbicara tentang siksa neraka biasanya diiringi juga dengan pembicaraan tenang kenikmatan surga. Saat berbicara tentang siksa, umumnya juga diiringi dengan ayat yang berbicara tentang Maha Pengampun-Nya Allah Swt.

9. Menanamkan bahwa bacaan ayat AL Quran yang didengar, bukan dari diri kita yang membaca, melainkan dari allah Swt

10. Berlepas dari berbagai kondisi kecuali ridha dan berusaha terus menerus membersihkan hati, ini yang disebut at tabarri. Artinya, jika membicarakan ayat-ayat tentang ancaman dan pujian bagi orang-orang shalih, hati dan jiwanya bersaksi atas firman Allah Swt tersebut. Termasuk munculnya harapan untuk bisa dimasukkan dalam golongan orang-orang yang shalih yang dipuji dalam Al Quran. begitu pula sebaliknya.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *