Menunggu Shalat, Aktivitas Utama Seorang Hamba


Jika kita seorang muslim yang baik, tentunya shalat yang kita lakukan bukan untuk menggugurkan kewajiban saja. Shalat kita harus memiliki nilai lebih sehingga manfaatnya pun akan lebih optimal; tidak sekadar ritual belaka, tetapi juga mampu mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar. Oleh karena itu, shalat kita jangan sekadar baik, namun harus menjadi persembahan terbaik. Tidakkah kita malu mempersembahakan sesuatu yang buruk dan asal-asalan bagi Zat Yang Mahasempurna?

Salah satu cara menjadikan shalat kita sebagai persembahan terbaik adalah menjadikan kesukaan Allah sebagai standar bertindak. Apa yang paling Allah sukai dari shalat kita, itulah yang kita kejar. Ternyata, shalat tepat waktu termasuk amal yang sangat dicintai Allah Swt.

Suatu ketika, Abdullah bin Mas’ud bertanya kepada Rasulullah saw., “Amal apa yang paling dicintai Allah?”

Rasulullah bersabda, “Shalat pada waktunya.”

Dia bertanya kembali, “Kemudian apa?”

Rasulullah bersabda, “Berbuat baik kepada kedua orang tua.”

“Kemudian apa lagi, ya Rasulullah?”

Rasulullah bersabda kembali, “Berjihad di jalan Allah.” (HR Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, dan An Nasa’i)

Shalat tepat waktu adalah keutamaan. Sangat layak bagi kita untuk bisa mendapatkan keutamaannya. Seseorang yang telah menjadikan shalat sebagai kebutuhan akan berusaha istikamah memburunya. Keutamaan shalat tepat waktu akan makin berlipat jika dilakukan secara berjamaah di masjid. Rasulullah saw. menjanjikan bahwa shalat berjamaah pahalanya 27 kali lebih banyak daripada shalat munfarid. Artinya, Allah Swt. 27 kali lebih menyukai orang yang melakukan shalat berjamaah dibanding orang yang shalat sendirian.

Nilai pahala dan rahmat Allah akan semakin berlipat jika kita mempersiapkan diri sebelum adzan berkumandang, dalam arti kita menunggu waktu shalat tiba. Setidaknya, ada empat alasan mengapa menunggu shalat menjadi sebuah keutamaan.

Pertama, menunggu shalat adalah bukti kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya. Bukankah orang yang sedang dimabuk cinta akan senantiasa merindukan perjumpaan dengan yang dicintainya? Ketika ada janji bertemu, dia akan berusaha untuk tidak terlambat. Begitu pula saat kita merindukan dan mencintai Allah Swt., kita akan selalu menanti perjumpaan dengan-Nya, kapan pun dan di mana pun. Sebelum azan berkumandang, seseorang yang telah bersungguh-sungguh untuk dekat dengan Allah sudah mempersiapkan diri untuk menunaikan shalat. Dia akan tinggalkan semua urusan duniawinya: pasar, kantor, tempat rapat, bisnis, dan sebagainya dengan pergi ke masjid untuk menunggu shalat. Bagi orang seperti ini, Allah Swt. telah menjanjikan anugerah surga. Dari Abu Dzar, Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut.

”Barang siapa menyambut panggilan Allah (kumandang azan) dan memakmurkan masjid-masjid-Nya, niscaya dia akan mendapatkan surga.”

Kedua, menunggu waktu shalat akan membuka kesempatan melakukan amal kebaikan, seperti membaca Al Qur’an, iktikaf, berzikir, berdoa, bersedekah, tafakur, membaca buku, berkhidmat dengan membereskan atau membersihkan tempat shalat, belajar dan mengajarkan kebaikan, taklim, dan lainnya. Bukankah kebaikan itu memiliki temannya sendiri? Ketika kita mengajak yang satu, maka temannya yang lain akan ikut serta. Artinya, ketika kita meluangkan waktu untuk menunggu datangnya waktu shalat di masjid (dan itu adalah kebaikan), maka amal-amal kebaikan lainnya akan mengikuti. Minimal, kita tercatat sebagai orang yang melakukan iktikaf dan berada di majelis zikir. Itulah kebaikan tambahan dari shalat itu sendiri.

1. Orang yang menunggu waktu shalat di masjid akan mendapatkan keutamaan Iktikaf. Iktikaf tidak hanya terbatas pada bulan Ramadhan. Pada bulan-bulan di luar Ramadhan pun sebaiknya kita meniatkan Iktikaf setiap kali kita memasuki masjid, walau hanya sebentar, karena di dalamnya ada keutamaan yang sangat besar. Rasulullah saw. pernah berwasiat kepada Abu Dzar Al Ghifarri sebagai berikut.

”Wahai Abu Dzar, sesungguhnya Allah akan memberimu—selama engkau duduk di masjid—setiap napas satu derajat di surga, didoakan oleh para malaikat, dan dicatat untuk setiap napas sepuluh kebaikan dan dihapus sepuluh dosa darimu!”

Seorang hamba yang Iktikaf di masjid, terlebih untuk menantikan shalat, bagaikan seseorang yang telah keluar dari pintu-pintu keduniawiannya kemudian dia pergi ke rumah Tuhannya lalu berdiam diri di sana untuk mendapatkan keridhaan-Nya. Oleh karena itu, bagaimana mungkin Allah ‘Azza wa Jalla tidak menghormatinya sebagaimana tuan rumah yang terhormat memperlakukan seorang tamunya? Jika Allah sudah memuliakan seseorang yang menjadi tamu-Nya, siapakah yang akan mampu menghitung kebaikan yang akan Allah limpahkan kepada orang tersebut?

2. Orang yang menunggu waktu shalat di masjid akan mendapatkan saat-saat ijabahnya doa antara azan dan iqamat serta saat menghadap kiblat. Doa adalah senjatanya orang-orang beriman, saripati ibadah, dan bentuk penghambaan yang jelas terhadap Allah Swt. Allah Swt. telah berjanji akan mengijabah setiap doa hamba-Nya[1]. Namun, ada mekanisme tersendiri dari ijabahnya doa tersebut yang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal si pendoa. Salah satunya adalah faktor tempat dan waktu. Berdoa di masjid, pada saat antara azan dan iqamat, dan dengan menghadap kiblat, akan menjadikan doa tersebut lebih dekat dengan iijabah. Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut.

“Doa di antara azan dan iqamat tidak akan ditolak.” (HR At Tirmidzi)

Keutamaan ini tidak akan di dapatkan kecuali oleh orang-orang yang telah mempersiapkan diri untuk menghadap Allah Swt.

3. Orang yang menunggu waktu shalat di masjid akan mendapatkan saat-saat istimewa untuk berzikir kepada Allah Swt. Zikir adalah sebuah keutamaan yang akan menjadikan seorang hamba berada dalam perlindungan Tuhannya. Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut.

“Aku perintahkan kepada kalian agar selalu berzikir kepada Allah. Sesungguhnya, perumpamaan orang yang berzikir itu seperti seorang yang dicari-cari oleh musuhnya. Mereka menyebar mencari orang tersebut sehingga dia sampai pada suatu benteng yang sangat kokoh dan dia dapat melindungi dirinya di dalam benteng tersebut dari kejaran musuh. Begitu juga dengan setan, seorang hamba tidak akan dapat melindungi dirinya dari setan, kecuali dengan berzikir kepada Allah.”

Berdiam diri di masjid untuk menunggu shalat sebagai bentuk zikir secara perbuatan akan membuka kesempatan bagi seseorang untuk melakukan zikir secara lisan melalui bacaan Al Qur’an maupun wirid-wirid dengan kalimat thayyibah, seperti ucapan tahmid, tahlil, takbir, maupun istighfar. Keutamaan zikir dengan kalimat-kalimat ini nilainya lebih baik daripada dunia dan isinya.

4. Orang yang menunggu waktu shalat di masjid bisa mendapatkan keutamaan majelis taklim. Pada masa Rasulullah saw., para sahabat berlomba-lomba datang ke Masjid Nabawi, tidak hanya untuk mengejar shalat berjamaah, akan tetapi juga untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar (ta’lim wa ta’allum) yang dilakukan sebelum dan sesudah dilaksanakannya shalat berjamaah. Mereka sangat bersemangat untuk mendengarkan nasihat-nasihat dari Rasulullah saw. Mereka mendengarkannya di dalam masjid, kemudian dipahami, dihayati, dan diulang-ulang (taqrar) sampai hafal. Kemudian, pengajaran di masjid tersebut mereka bawa ke rumah lalu diajarkan kepada keluarganya dan kepada orang-orang yang tidak sempat hadir di majelisnya Rasulullah saw. Tentang keutamaan majelis taklim ini, Rasulullah saw. pernah berwasiat kepada Abu Dzar Al Ghiffari.

“Wahai Abu Dzar, segala macam (aktivitas) duduk di masjid itu akan sia-sia, kecuali tiga macam duduk, yaitu duduknya orang yang shalat, duduknya orang yang berzikir kepada Allah, dan duduknya orang untuk membahas ilmu.”

Ketiga, saat menunggu shalat, peluang untuk melakukan maksiat jadi lebih kecil. Sangat tidak wajar jika kita menunggu shalat sambil menipu, berghibah, berpacaran, atau berbantah-bantahan. Nuansa ibadah yang penuh ketenangan akan lebih mendominasi orang-orang yang menyengajakan diri datang ke masjid lebih awal untuk shalat berjamaah. Menjadi sangat sulit bagi setan untuk menjerumuskan orang yang sedang menunggu shalat di masjid. Dengan segala keutamaannya, Rasulullah saw. telah menetapkan masjid sebagai tempat untuk beraktivitas yang bernilai ibadah dan ketaatan yang telah ditetapkan. Jangankan melakukan maksiat yang besar, melakukan kesia-siaan kecil pun tidak boleh terjadi di masjid.

Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang apa yang dimaksud memakmurkan masjid. Beliau menjawab sebagai berikut.

”Janganlah engkau bersuara keras, jangan berbicara yang batil, dan jangan melakukan jual beli di dalamnya. Jika engkau tidak dapat berbuat seperti itu, janganlah menyesali kecuali dirimu sendiri pada hari Kiamat nanti.”

Keempat, saat menunggu shalat kita akan menjaga kebersihan diri dan jiwa. Bukankah salah satu syarat sahnya shalat adalah bersih badan dan tempat shalat dari najis? Minimal lima kali sehari kita berwudu dan terus menjaga wudu sampai kegiatan shalat berjamaah selesai dilaksanakan. Artinya, seseorang yang senantiasa menunggu waktu shalat, secara tidak langsung telah dikondisikan untuk hidup dalam nuansa kebersihan, lahir maupun batin. Inilah yang kemudian akan mengdatangkan kecintaan Allah, doa malaikat, dan terbukanya pintu pertolongan. Betapa tidak, Allah adalah Zat Yang Mahasuci dan Dia sangat menyukai orang-orang yang gemar menyucikan dirinya dari kotoran-kotoran lahir dan batin. Ketika Dia sudah mencintai seorang hamba-Nya, tidak ada satu pun yang bisa menahan datangnya beragam nikmat bagi orang tersebut. Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

[1] QS Al Baqarah, 2: 186

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *