Agar Menghafal Quran Mudah dan Ringan

Apa yang membuat orang-orang begitu mudah mengahafal nyanyian? Bahkan secara otomatis hafal tanpa ‘berniat’ untuk menghafalkan? Mengapa pula orang merasa kesulitan untuk menghafal al-Qur’an dan hadits, meskipun sudah berniat untuk menghafalkan?

Salah satu faktornya karena dorongan cinta. Rasa suka seseorang terhadap sesuatu memudahkan untuk mengingatnya. Rasa suka terhadap nyanyian juga merangsang keinginan untuk menghafalkan, dan ada ‘kepuasan’ tatkala ia berhasil menghafalkan. Kultur yang memang telah terbius oleh tradisi nyanyian semakin mengentalkan kebiasaan bernyanyi, hingga nyanyian menjadi reflek yang mengiringi seseorang saat kerja dan senggang. Wajar, jika nyanyian menjadi sesuatu yang mudah dihafal oleh generasi sekarang.

Munculkan Rasa Cinta Terhadap Ilmu

Mengapa kemudahan orang dalam menghafal nyanyian tidak dialami oleh sebagian orang yang menghafalkan al-Qur’an, hadits dan ilmu-ilmu syar’i? Bisa jadi, kecenderungan hati (nafsu?) masih kepada hal-hal yang remeh temeh seperti nyanyian. Atau belum begitu ‘ngeh’ terhadap faedah apa yang bisa diraih dengan memahami ilmu syar’i, sekaligus keuntungan yang bisa diperoleh dengan menghafalnya.

Sekedar otokritik, jangan-jangan kecintaan kita terhadap nash-nash syar’i masih jauh dibanding kecintaan para pecinta nyanyian terhadap nyanyian.

Memang sebagian kita telah memiliki rasa cinta terhadap ilmu syar’i. Tapi, kadar cinta itu belum memadai untuk mendongkrak kemauannya untuk menghafal, atau bahkan menjadikannya sebagai senandung yang secara reflek mengiringi setiap kesempatan yang memungkinkan.
Baca Juga: Al-Quran Relevan Sepanjang Zaman

Padahal, andaikan kita memiliki banyak hafalan, selaksa faedah bakal kita dapatkan. Sebagian pembaca mungkin sudah bertahun-tahun mengikuti kajian ilmu syar’i. Atau bahkan memiliki dan pernah membaca ratusan literatur Islam. Tapi sudahkah Anda mampu menjelaskan satu dua topik saja dari sekian pertemuan atau sekian ratus buku, tentu lengkap dengan dalil dan argumen yang memadai? Ini karena yang menjadi target baru sebatas paham, belum untuk memahamkan.

Padahal, selain paham dan mengamalkan, karakter orang yang telah berilmu adalah menghafal matan. Baik berupa dalil al-Qur’an, hadits, maupun aqwal (perkataan atau nukilan) para ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

مَنْ حَفِظَ اْلمُتُوْنِ حاَزَ الْفُنُوْنِ

“Barangsiapa menghafal matan, berarti dia telah meraup pengetahuan.”

Jadi, jika apa yang kita pelajari belum ada yang nyantel sebagai hafalan, kita belum disebut orang alim dalam definisi yang bersifat perolehan ilmu. Meskipun kita telah mendapatkan faedah berupa lurusnya amal dan keyakinan.

Penuntut ilmu sejati, tidak merasa cukup hanya memahami. Targetnya juga bisa memahamkan orang lain kapanpun diperlukan. Dan ini memungkinkan jika hafalan selalu ready di hati dan pikirannya. Imam Masjid dan Khathib Masjid Nabawi, Syaikh Abdul Muhsin al-Qasim berkata, “Orang yang cerdas adalah orang yang mencatat sesuatu yang terbaik dari apa yang didengarnya, dan orang yang jenius adalah orang yang menghafal sesuatu yang terbaik dari apa yang ditulisnya.”

Bersama Para Penghafal

Sepanjang sejarah Islam, tidaklah kita kenal ulama di sepanjang zaman, melainkan mereka memiliki banyak hafalan dan kuat hafalannya. Seperti Imam Ahmad bin Hambal, Abu Zur’ah berkata, “Adalah Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits.” Imam Asy-Sya’bi juga menyebutkan sendiri sebanyak apa ilmu yang dihafalnya, “”Yang paling sedikit dari yang aku pelajari adalah kata-kata sya’ir. Namun seandainya aku mau membacakan sya’ir-sya’ir yang kuhafal, tentu akan memakan waktu sebulan penuh tanpa mengulang-ulang yang sudah aku sebutkan.”

Abu Bakar al-Anbari, ulama abad 4 H, sangat kuat hafalannya. Saat masih muda dia sakit, hal ini membuat sang ayah gelisah dan berkata, “Bagaimana aku tidak gelisah, ia satu-satunya orang yang saya harapkan bisa menghafal semua buku di rak-rak ini.” Beliau pernah mendiktekan muridnya-muridnya dengan hafalan, kitab Ghariibul hadits yang berjumlah 45.000 halaman, Kitab Syarh al-Kaafi setebal 1000 halaman, Kitab al-Adhdaad 1000 lembar, Kitab al-Jahiliyyaat 700 halaman dan kitab-kitab yang lain. (Siyar A’lam 15/511). Dikisahkan pula bahwa beliau hafal 120 kitab Tafsir lengkap dengan sanad-sanadnya.

Ubah Target Menghafal Menjadi Membaca Puluhan Kali

Mungkin kita tercengang dan kagum menyimak kisah tentang kekuatan hafalan dan daya ingat para ulama di atas. Sebagian kita tak memiliki bayangan sedikitpun untuk bisa memiliki hal serupa. Faktor bawaan dan nasib kerap dijadikan sebagai jawaban pamungkas saat kita ingan berkilah dari motivasi untuk menghafal. Padahal, hasil yang mereka dapatkan bukan serta merta didapatkan, ada proses panjang, yang kitapun terbuka kemungkinan bisa menempuhnya.

Mereka juga mengalami masa-masa sulit untuk menghafal. Mereka juga membutuhkan kesabaran ekstra, mengulang-ulang untuk menghafalnya, atau menjaga agar hafalan tidak hilang dari rekaman otaknya.

Ada baiknya kita mencoba cara serupa. Jika target hafalan dirasa berat, maka cukuplah target diturunkan menjadi ‘membaca sekian puluh kali’. Meski terkesan agak membutuhkan waktu lama, tapi beban pikiran terasa lebih ringan katimbang beban ‘harus hafal.’ Hasilnya akan bisa kita rasakan. Simaklah bagaimana para ulama menghafal pelajaran yang didapatkan.

Abu Ishaq al-Shirazy biasa mengulangi pelajaran yang ia dapatkan sebanyak seratus kali. Al-Hasan bin Abu Bakar an-Naisabury juga berkata, “Seseorang tidak akan hafal dengan baik sampai dia mengulanginya sebanyak lima puluh kali.”

Beliau juga bercerita tentang seorang faqih (ahli fiqh) yang mengulang pelajaran di rumahnya berkali-kali. Hingga seorang nenek tua di rumahnya berkata, “Cukup…demi Allah, akupun sampai ikut hafal.’” Maka berkatalah si faqih, “Ulangilah apa yang telah nenek hafal’, maka wanita tua itu mengulanginya dan betul-betul hafal. Setelah beberapa hari, si faqih berkata kembali, ‘Nek!, ulangilah pelajaran yang waktu itu’ maka ia berkata, “Aku tidak hafal lagi.” Si faqih itu berkata, “Aku selalu mengulanginya agar tidak menimpaku apa yang telah menimpamu (yaitu hilangnya hafalan).”

Kesungguhan semacam ini pada akhirnya akan membuahkan kenikmatan dan kemudahan untuk menghafalkan ilmu yang bermanfaat. Apa yang membuat orang-orang begitu mudah mengahafal nyanyian? Bahkan secara otomatis hafal tanpa ‘berniat’ untuk menghafalkan? Mengapa pula orang merasa kesulitan untuk menghafal al-Qur’an dan hadits, meskipun sudah berniat untuk menghafalkan?

Salah satu faktornya karena dorongan cinta. Rasa suka seseorang terhadap sesuatu memudahkan untuk mengingatnya. Rasa suka terhadap nyanyian juga merangsang keinginan untuk menghafalkan, dan ada ‘kepuasan’ tatkala ia berhasil menghafalkan. Kultur yang memang telah terbius oleh tradisi nyanyian semakin mengentalkan kebiasaan bernyanyi, hingga nyanyian menjadi reflek yang mengiringi seseorang saat kerja dan senggang. Wajar, jika nyanyian menjadi sesuatu yang mudah dihafal oleh generasi sekarang.

Munculkan Rasa Cinta Terhadap Ilmu

Mengapa kemudahan orang dalam menghafal nyanyian tidak dialami oleh sebagian orang yang menghafalkan al-Qur’an, hadits dan ilmu-ilmu syar’i? Bisa jadi, kecenderungan hati (nafsu?) masih kepada hal-hal yang remeh temeh seperti nyanyian. Atau belum begitu ‘ngeh’ terhadap faedah apa yang bisa diraih dengan memahami ilmu syar’i, sekaligus keuntungan yang bisa diperoleh dengan menghafalnya.

Sekedar otokritik, jangan-jangan kecintaan kita terhadap nash-nash syar’i masih jauh dibanding kecintaan para pecinta nyanyian terhadap nyanyian.

Memang sebagian kita telah memiliki rasa cinta terhadap ilmu syar’i. Tapi, kadar cinta itu belum memadai untuk mendongkrak kemauannya untuk menghafal, atau bahkan menjadikannya sebagai senandung yang secara reflek mengiringi setiap kesempatan yang memungkinkan.

Padahal, andaikan kita memiliki banyak hafalan, selaksa faedah bakal kita dapatkan. Sebagian pembaca mungkin sudah bertahun-tahun mengikuti kajian ilmu syar’i. Atau bahkan memiliki dan pernah membaca ratusan literatur Islam. Tapi sudahkah Anda mampu menjelaskan satu dua topik saja dari sekian pertemuan atau sekian ratus buku, tentu lengkap dengan dalil dan argumen yang memadai? Ini karena yang menjadi target baru sebatas paham, belum untuk memahamkan.

Padahal, selain paham dan mengamalkan, karakter orang yang telah berilmu adalah menghafal matan. Baik berupa dalil al-Qur’an, hadits, maupun aqwal (perkataan atau nukilan) para ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

مَنْ حَفِظَ اْلمُتُوْنِ حاَزَ الْفُنُوْنِ

“Barangsiapa menghafal matan, berarti dia telah meraup pengetahuan.”

Jadi, jika apa yang kita pelajari belum ada yang nyantel sebagai hafalan, kita belum disebut orang alim dalam definisi yang bersifat perolehan ilmu. Meskipun kita telah mendapatkan faedah berupa lurusnya amal dan keyakinan.

Penuntut ilmu sejati, tidak merasa cukup hanya memahami. Targetnya juga bisa memahamkan orang lain kapanpun diperlukan. Dan ini memungkinkan jika hafalan selalu ready di hati dan pikirannya. Imam Masjid dan Khathib Masjid Nabawi, Syaikh Abdul Muhsin al-Qasim berkata, “Orang yang cerdas adalah orang yang mencatat sesuatu yang terbaik dari apa yang didengarnya, dan orang yang jenius adalah orang yang menghafal sesuatu yang terbaik dari apa yang ditulisnya.”

Bersama Para Penghafal

Sepanjang sejarah Islam, tidaklah kita kenal ulama di sepanjang zaman, melainkan mereka memiliki banyak hafalan dan kuat hafalannya. Seperti Imam Ahmad bin Hambal, Abu Zur’ah berkata, “Adalah Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits.” Imam Asy-Sya’bi juga menyebutkan sendiri sebanyak apa ilmu yang dihafalnya, “”Yang paling sedikit dari yang aku pelajari adalah kata-kata sya’ir. Namun seandainya aku mau membacakan sya’ir-sya’ir yang kuhafal, tentu akan memakan waktu sebulan penuh tanpa mengulang-ulang yang sudah aku sebutkan.”

Abu Bakar al-Anbari, ulama abad 4 H, sangat kuat hafalannya. Saat masih muda dia sakit, hal ini membuat sang ayah gelisah dan berkata, “Bagaimana aku tidak gelisah, ia satu-satunya orang yang saya harapkan bisa menghafal semua buku di rak-rak ini.” Beliau pernah mendiktekan muridnya-muridnya dengan hafalan, kitab Ghariibul hadits yang berjumlah 45.000 halaman, Kitab Syarh al-Kaafi setebal 1000 halaman, Kitab al-Adhdaad 1000 lembar, Kitab al-Jahiliyyaat 700 halaman dan kitab-kitab yang lain. (Siyar A’lam 15/511). Dikisahkan pula bahwa beliau hafal 120 kitab Tafsir lengkap dengan sanad-sanadnya.

Ubah Target Menghafal Menjadi Membaca Puluhan Kali

Mungkin kita tercengang dan kagum menyimak kisah tentang kekuatan hafalan dan daya ingat para ulama di atas. Sebagian kita tak memiliki bayangan sedikitpun untuk bisa memiliki hal serupa. Faktor bawaan dan nasib kerap dijadikan sebagai jawaban pamungkas saat kita ingan berkilah dari motivasi untuk menghafal. Padahal, hasil yang mereka dapatkan bukan serta merta didapatkan, ada proses panjang, yang kitapun terbuka kemungkinan bisa menempuhnya.

Mereka juga mengalami masa-masa sulit untuk menghafal. Mereka juga membutuhkan kesabaran ekstra, mengulang-ulang untuk menghafalnya, atau menjaga agar hafalan tidak hilang dari rekaman otaknya.

Ada baiknya kita mencoba cara serupa. Jika target hafalan dirasa berat, maka cukuplah target diturunkan menjadi ‘membaca sekian puluh kali’. Meski terkesan agak membutuhkan waktu lama, tapi beban pikiran terasa lebih ringan katimbang beban ‘harus hafal.’ Hasilnya akan bisa kita rasakan. Simaklah bagaimana para ulama menghafal pelajaran yang didapatkan.
Baca Juga: Al-Quran, Keajaiaban dunia Yang Terabaikan

Abu Ishaq al-Shirazy biasa mengulangi pelajaran yang ia dapatkan sebanyak seratus kali. Al-Hasan bin Abu Bakar an-Naisabury juga berkata, “Seseorang tidak akan hafal dengan baik sampai dia mengulanginya sebanyak lima puluh kali.”

Beliau juga bercerita tentang seorang faqih (ahli fiqh) yang mengulang pelajaran di rumahnya berkali-kali. Hingga seorang nenek tua di rumahnya berkata, “Cukup…demi Allah, akupun sampai ikut hafal.’” Maka berkatalah si faqih, “Ulangilah apa yang telah nenek hafal’, maka wanita tua itu mengulanginya dan betul-betul hafal. Setelah beberapa hari, si faqih berkata kembali, ‘Nek!, ulangilah pelajaran yang waktu itu’ maka ia berkata, “Aku tidak hafal lagi.” Si faqih itu berkata, “Aku selalu mengulanginya agar tidak menimpaku apa yang telah menimpamu (yaitu hilangnya hafalan).”

Kesungguhan semacam ini pada akhirnya akan membuahkan kenikmatan dan kemudahan untuk menghafalkan ilmu yang bermanfaat. Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *