Siapkan Pendidikan Anak Menghadapi Akhir Zaman


“Dari Nu’man bin Basyir dari Hudzaifah bin al-Yaman Radhiyallahu ‘Anhu, berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, bersabda: “Masa kenabian itu berada di tengah-tengah kalian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya.

Selanjutnya masa kerajaan yang menggigit (Mulkan ’Adhan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Setelah itu, masa kerajaan yang sombong (Mulkan Jabariyyan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam,”(H.R Ahmad).

Berdasarkan hadist Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, pada dasarnya zaman dibagi menjadi lima fase. Fase pertama adalah zaman kenabian yang dipimpin oleh Rasulullah selama 23 tahun. Fase kedua adalah fase khilafah atas manhaj kenabian. Fase ini ummat islam dipimpin oleh khulafa arrasyidin yang berlangsung selama tiga puluh tahun. Fase ketiga adalah fase kerajaan yang menggigit (mulkan ‘adhan) yang pada dasarnya masih berpegang pada Al-Quran dan sunnah Rasul. Fase ini berlangsung sekitar 13 abad lamanya. Fase keempat adalah fase kerajaan yang diktator (mulkan jabarriyan), fase ini dimulai saat kerajaan Turki Utsmani runtuh. Pada fase ini terjadi ketidakadilan dan banyak terjadi fitnah yang menyerang kaum muslim, dan keadaan muslim pada kondisi dibawah. Menuurut fase hadist Rasul fitnah yang terjadi seperti prtongan malam yang gelap gulita. Fitnah terbesar yang akan datang kemudian adalah fitnah Dajjal. Fase inilah disaat kita berada sekarang ini. Namun ada kabar gembira akan muncul fase kelima yakni fase khilafah atas manhaj kenabian akan tiba. Pada fase ini islam akan tegak dan berjaya kembali. Saat fase ini terjadi itu artinya dunia akan berakhir. Lalu pertanyaan berikutnya, apakah kita dapat berperan dalam menghadapi fase akhir zaman ini. Dan kita pun tidak tahu kapan fase itu akan datang. Mungkin kita terlalu tua untuk menghadapi semuanya. Namun tidak perlu khawatir, kita dapat mempersiapkan menghadapi akhir zaman dengan mendidik anak-anak ntuk mewariskan dan mewujudkan cita cita besar ummat islam untuk kembali berjaya.

Saat ini kita tengah berada pada zaman dimana sistem kapitalisme dunia barat tengah menguasai kehidupan global di muka bumi ini. Sistem ini dikuasai oleh negara adidaya yang mayoritas dipimpin oleh kaum yahudi dan nasrani. Mereka secara menyerang moralitas para pemuda dan anak-anak melalui media-media yang dapat merusak mentalitas untuk jauh dari agama. Maka dari itu anak sebagai aset berharga penerus bangsa perlu ditanamkan nilai moral keislaman yang kuat dalam menghadapi zaman yang semakin berkembang ini melalui pendidikan yang sebagaimana rasul dan para sahabat ajarkan. Generasi mudah adalah generasi emas yang harus diberikan pendidikan yang baik untuk menjadi pemuda yang teguh imannya, serta kuat jiwa dan raganya. Maka apabila generasi muda ummat islam baik, insyaAllah islam akan bangkit kembali dan siap menghadapi fase terakhir dari kehidupan seluruh jagat raya ini.

Ada tiga prinsip utama yang harus ditanamkan dalam pendidikan anak yakni akidah yang benar, ibadah yang benar, dan akhlak yang benar. Teori parenting islam berasal dari kisah Luqmanul Hakim, sang Ahli Hikmah, dimana setiap perkataannya selalu menginspirasi orang yang mendengarkannya. Kisah pendidikan Luqmanul Hakim terhadap anaknya diabadikan dalam Al-Quran Surat Luqman (31) ayat 12 s/d 19.

(12) Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (13) Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar” (Q.S. Luqman (31) 12-13)

Pada ayat tersebut Luqman memanggil anaknya dengan panggilan kesayangan “yaa bunayya”, bukan “Yaa Waladii”. Meskipun keduanya memili arti yang sama yaitu “wahai anakku”, namun makna keduanya berbeda. Panggilan tersebut mencerminkan kasih sayang orang tua yang menginginkan anaknya selamat dunia dan akhirat. Parenting harus berlandaskan pada Al-Quran dan Hadist sebagai acuan utama, bukan berlandaskan teori parenting modern. Maka hal yang paling utama yang harus ditanamkan kepada sang anak adalah tauhid, sebagaimana yang Luqmanul Hakim ajarkan kepada anaknya.

Di era sekarang ini justru banyak orang tua yang menjerumuskan anaknya ke dalam paham materialistik, banyak pula orang tua yang merusak anaknya dengan memberikan gadget padahal usianya belum cukup, sehingga anak nantinya akan memiliki sifat hubuddunya (lebih mencintai dunia). Maka sebagai orangtua hendaknya mengajarkan anak untuk menjadi shalih, berorientasi kepada kehidupan akhirat, dan buatlah visi dalam mendidik anak. Ajarkan anak tentang bahaya syirik sesuai dengan jenjang usianya. Juga yang tak kalah penting adalah ajarkan anak tentang hal yang membuat keislaman batal. Juga ajarkan anak untuk beribadah dengan benar. Sebagai orang jangan sampai membiarkan anak tidak melaksanakan kewajiban ibadah seperti halnya shalat yang jika tidak melaksanakannya dapat membatalkan keimanan seseorang.

Pendidikan anak tentunya harus disesuaikan dengan tingkat kedewasaannya. Ada tiga rentang usia dalam mendidik anak. Rentang usia pertama adalah usia 0 sampai 7 tahun. Pada rentang usia ini perlakukanlah anak seperti raja, berikan selalu penghargaan akan setiap apa yang dilakukannya. Pada rentang ini tanggung jawab lebih dititikberatkan kepada seorang ibu. Rentang kedua adalah pada saat anak berusia 7 sampai 14 tahun. Pada usia ini berikan pengajaran kepada anak. Kuatkan tauhidnya, ajarkan ibadah dengna benar, dan hukum dengan hukuman yang wajar apabila anak melanggar. Pada rentang usia ini tanggung jawab leboh diberatkan pada seorang ayah. Rentang pendidikan anak yang ketiga adalah pada usia 14 sampai 21 tahun. Pada usia ini berikan anak bimbingan atau asistensi kepada anak, anak mulai dilatih mandiri, namun harus tetap pada pengawasan orang tua. Pada usia ini tanggungjawab pendidikan pada kedua orang tua.

Pendidikan yang baik dan berlandaskan nilai-nilai keislaman akan menumbuhkan anak yang memiliki akhlak yang mulia, dimana setiap orang tua tentuya mendambakan anaknya memiliki perangai yang baik dengan akhlak yang terpuji.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.
Silahkan berbelanja kurma di Rumah Kurma Sahara, Butuh perlengkapan haji? Ingat Toko Rumah Kurma Sahara!
Jalan Raya Semplak Atang Sandjaja No. 224
Bogor Barat – Kota Bogor
Customer Care : 0821-1141-8832 | 0878-7386-0559
Delivery : 0859-2512-6067
WA | PIN BB : 0878-7386-0559 | DA7A086