Memandang Bijak Terhadap Kekurangan Orang Lain

Tidak ada satupun manusia yang luput dari kesalahan, dan setiap orang pasti punya kelebihan dan pasti punya kekurangan. Kelebihan maupun kekurangan, dua-duanya adalah ladang amal bagi kita, termasuk kekurangan dan kesalahan orang lain. Kekurangannya adalah ladang amal bagi kita untuk membantu dan memperbaikinya, adapun kesalahannya adalah ladang amal bagi kita untuk memaafkan dan tidak meniru kesalahannya.

Seperti ada orang yang menghina kita, sesungguhnya kita tidaklah rugi karena yang rugi adalah dia. Dia kehilangan pahala yang ditransferkan kepada kita selaku orang yang dihina olehnya. Kalau pahalanya tidak cukup, maka dosa kita yang ditransfer kepadanya. Oleh karena itu tidak boleh kita balas menghina karena akan sama saja buruknya. Langkah terbaik adalah memaafkannya dan tidak meniru perbuatannya, dan akan lebih baik lagi kalau kita mengingatkannya.

Alloh Swt. berfirman, “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf..” (QS. Al A’rof [7] : 199)

Rosululloh Saw. adalah orang yang sangat pemaaf. Tidak ada sebesar apapun keburukan yang orang lain lakukan terhadap beliau yang beliau balas, kecuali beliau balas dengan kebaikan. Ketika diusir dan disakiti oleh penduduk Thaif, beliau justru mendoakan mereka supaya kelak mereka menjadi orang-orang yang beriman kepada Alloh Swt.

Bersikaplah bijak pada kekurangan orang lain dengan cara memaafkannya dan membantunya untuk menjadi lebih baik lagi. Demikianlah ciri orang yang beriman. Memaafkan bukanlah ciri kelemahan, melainkan justru bukti dari kekuatan. Semoga kita termasuk orang-orang yang bijaksana menyikapi kekurangan orang lain.

semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat rumah kurma sahara

referensi :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *