Jika Ingin Mulia Maka Kendalikanlah Amarah

Saudaraku, jika ingin mulia maka kendalikanlah amarah. Salah satu kunci menjadi penghuni surga adalah mengendalikan amarah. Seseorang yang mudah mengumbar amarah maka akan jauh dari keberhasilan.

Seorang suami yang pemarah akan merusak suasana rumahtangganya. Istri dan anak-anak akan merasa tertekan, padahal mereka berada di dalam rumah, tempat yang seharusnya menjadi tempat yang tentram. Seorang pedagang yang pemarah akan dijauhi konsumennya. Atasan yang pemarah akan sulit membangun kerjasama dengan bawahannya.

Amarah yang tak bisa dikendalikan adalah berasal dari syaitan. Dan, Rasulullah Saw. bukanlah seorang pemarah. Beliau adalah pribadi yang dicintai karena akhlaknya yang mulia.

Untuk bisa mengendalikan amarah, maka pertama, berdzikirlah dengan mengucapkan “A’udzubillahi minasy syaithaanirrajiim” (aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk). Rasulullah Saw. bersabda, “Aku mengetahui suatu kalimat yang jika diucapkan olehnya (orang yang sedang marah) maka akan hilang kemarahannya. Hendaklah ia mengucap, “A’udzubillahi minasy syaithaanirrajiim”. (HR. Bukhari Muslim).

Kedua, diamlah. Tahan diri dari reaksi spontan saat marah. Karena akhlak adalah respon spontan. Tahanlah dan berdzikirlah. Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila di antara kalian ada yang marah maka diamlah.” Beliau Saw. mengucapkannya sebanyak tiga kali.” (HR. Ahmad).

Ketiga, sesuai dengan sunnah Rasulullah Saw., jika amarah muncul dalam hati kita dan kita sedang berdiri, maka segeralah duduk. Jika dalam keadaan duduk amarah belum juga reda, maka berbaringlah. Carilah tempat atau situasi yang lebih kondusif untuk meredakan emosi dan menentramkan hati.

“Jika salah seorang dari kalian marah dan dia dalam keadaan berdiri, maka hendaklah duduk. Jika masih belum juga reda marahnya, maka hendaklah berbaring.” (HR. Ahmad).

Mengapa demikian? Karena marah dalam keadaan berdiri lebih besar kemungkinannya untuk melakukan keburukan dibandingkan dalam keadaan duduk. Sedangkan keadaan berbaring akan lebih aman lagi dibandingkan duduk atau berdiri.

Keempat, wudlu. Air wudlu akan menentramkan hati yang sedang panas terbakar amarah. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya kemarahan itu berasal dari syaitan. Dan, syaitan tercipta dari api. Dan, sesungguhnya api itu dapat dipadamkan dengan air. Jika salah seorang di antara kalian marah, maka berwudlulah.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Kelima, jikapun memang harus marah, maka marahlah dengan cara sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Yaitu, marah yang benar, tegas dan santun. Insyaa Allah marah dengan cara seperti ini akan memberikan jalan keluar terhadap masalah yang sedang dihadapi. Marah yang pernah ditunjukkan Rasul Saw. adalah marah yang diekspresikan secara santun dan bertujuan untuk menegur, mengingatkan dan menyelamatkan orang lain agar selamat dari dosa.

semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabt rumah kurma sahara

referensi : smstauhid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *