Muliakanlah Ibu Selagi Ada

Apa rencana kita hari ini, minggu ini atau bulan ini buat ibu? Seharusnyalah kita memberikan perhatian yang spesial buat ibu yang telah melahirkan dan membesarkan kita dengan segala jerih payahnya. Betapa mulianya seorang ibu sampai-sampai Nabi Muhammad Saw mengucapkan “Ibumu” sampai 3 kali ketika ditanya oleh sahabat, siapa orang yang patut diperlakukan dengan baik.

“Siapakah orang yang berhak aku perlakukan dengan baik?” tanya sahabat. “Ibumu,” jawab Nabi. “Kemudian siapa?” “Ibumu.” “Lalu?” “Ibumu, baru kemudian Bapakmu dan keluarga dekat yang lain,” tegas Nabi. HR. Bukhari dan Muslim.

Bagi kita yang tidak serumah lagi dengan ibu, seringkali kita lupa terhadapnya. Kesibukan sehari-hari yang menyita waktu, tenaga dan pikiran kerap kali menjadi alasan untuk tidak ingat kepada ibu. Walaupun hanya sekedar bertelepon menanyakan kabarnya. Kadang tempat tinggal kita berdekatan atau satu kota tapi belum tentu setiap minggu kita mengunjunginya. Apalagi bagi yang tinggalnya diluar kota atau bahkan di luar negeri, akan semakin jarang lagi.

Kita masih ingat betapa nyamannya pelukan seorang ibu. Yang dengan kasih sayangnya menentramkan kita, yang dengan telatennya mngurusi kita dalam kondisi apapun. Sakit, sedih, gembira dan tidak peduli betapa nakalnya kita, doa dan kasih sayangnya selalu tercurah buat kita.

Dalam sebuah hadist Qudsi, Abdurrahman bin ‘Auf Ra berkata, ia mendengar dari Rasulullah Saw, “Allah pernah mengatakan, ‘Aku adalah Allah, dan Aku adalah Ar-Rahman (Maha Pengasih), Akulah Yang Menciptakan rahiim (ibu), dan aku ambilkan sebutannya dari NamaKu (Ar-Rahim= Maha Penyayang). Siapa saja yang menyambungnya, maka Aku akan menyambungkan (diri-Ku) dengannya. Tapi bagi yang memutuskannya maka Aku pun akan memutuskannya (diri-Ku) dengannya.” HR. Tirmidzi.

Tidak ada bagian tubuh kita yang diambil dari nama suci Allah, kecuali rahim seorang ibu. Tempat dimana Allah telah memilih untuk menaruh buah kasih sayang sepasang hamba ciptaaan-Nya. Di dalam rahim itulah (biasa disebut alam rahim) proses janin terbentuk, tumbuh, berkembang dan kemudian ditiupkan ruh. Setelah lewat dari tiga masa kegelapan akhirnya lahirlah seorang anak manusia ke dunia.

Pengertian rahim atau kasih sayang sangatlah luas. Kasih sayang ibu yang tak terhingga pun tidak akan mampu kita membalasnya. Sebagaimana hadist yang menceritakan tentang seorang ibu yang digendong oleh anak laki-lakinya untuk bertawaf mengelilingi kakbah di Mekah. Kelaki itu menggendong kemana pun si ibu mau. Lalu lelaki itu bertanya kepada sahabat Abdullah bin Umar Ra, lalu apa jawabannya, “Belum, setetes pun engkau belum bisa membalas kebaikan kedua orangtuamu.”

Ada kisah, seorang anak tidak mau makan bersama ibunya. Orang-orang bertanya kepadanya, “Mengapa engkau tak makan bersama ibumu?” Ia menjawab, “Karena saya berbakti kepadanya.” Orang-orang pada berkata, “Apakah ibumu memang tak suka makan bersamamu?” Ia menjawab, “sebenarnya beliau suka dan bahkan berharap.” “Lalu mengapa engkau tidak memenuhinya,” kata mereka lagi. Si anak menjawab, “Jika saya makan bersamanya, saya khawatir tanganku mendahului tangannya untuk mengambil sepotong daging yang dilirik (hendak diambil) oleh ibuku. Maka ini berarti saya telah mendurhakainya. Karena itu, saya hanya menemaninya sambil menghibur, sampai beliau selesai makan. Setelah itu baru saya makan.”

Sebagaimana lazimnya, kalau kita makan bersama, mata kita akan tertuju pada salah satu makanan yang sangat ingin kita makan. Sehingga wajar kalau seseorang diantara kita kemudian mengambil salah satu makanan favoritnya. Boleh jadi, makanan itu sebelumnya dihasrati oleh ibu atau saudara kita. Hanya saja kita telah mendahuluinya. Inilah yang dikhawatirkan oleh si anak dalam kisah di atas. Maka dengan niat berbakti kepada ibunya, ia tak mau makan bersama ibunya.

Seandainya kita memiliki 2 buah gunung emas dan kita berikan semua kepada ibu, ini masih belum cukup untuk membalas kebaikan dan kasih sayang yang telah ibu berikan kepada kita. Karena itu, perlulah kita merenung, sudahkan kita terus menyambung tali silaturahmi terhadap ibu? Marilah kita tebarkan kasih sayang kepada ibu, lalu ibu, lalu ibu, baru kemudian kepada bapak, keluarga dan sesama.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *