Kiat Mengatasi Kesulitan

Bagaimana reaksi kebanyakan manusia jika ditimpa kesulitan? Dan bagaimana pula kalau berhasil terbebas dari kesulitan yang dihadapinya? Coba renungkan apa yang telah kita lakukan ketika kita mengalaminya.

Manusia ternyata memiliki sifat yang mudah berkeluh-kesah jika menghadapi kesulitan. Sebagaimana diisyaratkan oleh Allah Swt dalam firman-Nya, “Jika ia (manusia) ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan bila memperoleh harta ia amat kikir, kecuali orang yang shalat yang bersinambung dalam shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij/70: 20-23). Selanjutnya, manusia juga cenderung bersifat sombong dan kufur nikmat ketika sudah terbebas dari masalah. “Jika kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, ia akan berkata, ‘Telah hilang bencana-bencana itu dariku.’ Sesungguhnya ia sangat gembira lagi bangga (menyombongkan diri).” (QS. Huud/11: 9).

Bagaimana caranya agar kita bisa mengahadapi setiap kesulitan dan meraih apa yang kita inginkan? Jalan terbaik adalah minta bantuan kepada Allah dengan ketabahan dan doa.

Bantuan Allah, menurut sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, akan turun melalui upaya memberi bantuan kepada sesama. “Allah memberi bantuan kepada seseorang selama dia memberi bantuan kepada saudara (sesama)-nya.”

Ini berarti bantuan itu datang melalui kerjasama antar-manusia. Masyarakat yang sehat adalah bila setiap anggotanya menginginkan untuk orang lain apa yang diinginan untuk dirinya. Dia tidak menginginkan untuk orang lain apa yang tidak diinginkannya. Sebagai makhluk sosial, manusia harus sadar bahwa dia tergantung pada orang lain. Dia tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Hidup hanya mungkin dan nyaman bila dibagi dengan orang lain. Jika ini tercapai, maka salah satu sarat kehadiran bantuan Allah telah terpenuhi.

Syarat kedua yang menyertai usaha diatas adalah doa. Doa adalah wujud dari harapan kta kepada-Nya dan bukti optimisme kita terhadap Allah. Tentang doa ini, perlu kita simak apa yang diungkapkan oleh Abdul Qadir Jailani, sufi besar yang terkenal pada abad ke-12 Masehi. “Jangan tergesa-gesa! Jika anda memohon datangnya cahaya siang saat kian pekatnya kegelapan malam, maka penantian akan lama karena kegelapan akan meningkat hingga datangnya fajar. Tapi yakinlah bahwa fajar pasti menyingsing, baik dikehendaki atau tidak. Dan jika anda menghendaki kembalinya malam saat fajar, usaha dan doa anda tidak akan terpenuhi karena anda meminta sesuatu yang tidak layak. Anda akan dibiarkan oleh-Nya meratap, lunglai, jemu, sehingga boleh jadi enggan berdoa.”

Ingatlah bahwa kita salah bila jemu berdoa sambil berusaha, karena sesunnguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan. (QS. Asy-Syarh/94: 5-6). Ingat juga bahwa datangnya malam bukan berarti matahari tidak terbit lagi. Datangnya kesulitan, bencana atau bahkan krisis dunia bukan berarti dunia kiamat. Allah maha kuasa untuk mendatangkan kemudahan, jalan keluar dan keberhasilan.

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Rumah Kurma Sahara.

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *