Ikatlah Ilmu Dengan Menulis

rumah-kurma

Tradisi ilmu yang didorong oleh ayat-ayat al-Quran telah berhasil mengubah sahabat-sahabat Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dari orang-orang jahiliyah menjadi orang-orang yang senang dengan ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia; mengubah generasi-generasi Arab jahiliyah yang tidak diperhitungkan dalam pergolakan dunia, menjadi pemimpin-pemimpin kelas dunia yang disegani di seluruh kawasan dunia saat itu.

Tradisi baca dan tulis-menulis begitu hidup dalam masyarakat, yang sebelumnya didominasi tradisi lisan. Tiap ayat Al-Quran turun, Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama memerintahkan kepada sahabat dekatnya untuk menulis. Bahkan tradisi membaca dan menulis ini menjadi simbol kemuliaan seseorang. Rasulullah menjadikan pelajaran baca tulis sebagai tebusan tawanan Badar.

Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama menugaskan Abdullah bin Said bin Ash untuk mengajarkan tulis menulis di Madinah. Juga memberi mandat Ubadah bin Shamit mengajarkan tulis menulis ketika itu. Kata Ubadah, ia pernah diberi hadiah panah dari salah seorang muridnya, setelah mengajarkan tulis menulis kepada Ahli Shufah. Saad bin Jubair berkata: ”Dalam kuliah-kuliah Ibn Abbas, aku biasa mencatat di lembaran. Bila telah penuh, aku menuliskannya di kulit sepatuku, dan kemudian di tanganku. Ayahku sering berkata: ”Hafalkanlah, tetapi terutama sekali tulislah. Bila telah sampai di rumah, tuliskanlah. Dan jika kau memerlukan atau kau tak ingat lagi, bukumu akan membantumu.” (Mustafa Azami, 2000)

Semangat mereka dalam memburu ilmu pengetahuan makin tinggi, berkat pemahaman terhadap Al-Quran yang banyak ayat- ayatnya mendorong agar Muslim senantiasa menggunakan akalnya. Ibnu Taimiyah mencatat, banyak sahabat yang tinggal di asrama untuk mengikuti madrasah Rasulullah. Menurut Ibnu Taimiyyah, jumlah orang yang tinggal di dalam Shufah (asrama tempat belajar), mencapai 400 orang.

Namun menulis bukan suatu hal yang main-main. Menulis tidak cukup hanya memiliki keahlian menulis yang baik dan menarik perhatian, namun juga harus dilandasi dengan keilmuan yang benar. Pertanggungjawaban penulis terhadap tulisannya adalah dunia akhirat. Hal-hal yang ditulis harus memiliki dasar ilmu yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Menulis juga harus dilandasi niat semata-mata untuk memuliakan kalimat Allah Ta’ala, tidak dilandasi dengan kepentingan-kepentingan golongan, apalagi untuk mencari keuntungan duniawi. Hal ini agar tidak terjadi penyebaran ilmu yang salah pada khalayak pembaca yang nantinya akan merusak ilmu itu sendiri.

Para ulama kita sangat berhati-hati dalam menuliskan ilmu yang mereka miliki. Imam Bukhari menulis kitab Shahih-nya selama 16 ahun dan selalu shalat dua rakaat setiap kali menulis satu hadits, serta berdoa meminta petunjuk Allah. Imam Ahmad pernah menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk mencari satu hadits. Ulama-ulama besar lain seperti Imam Syafi’i, al-Suyuthi, Ibnu Hajar, dan al-Nawawi menulis karya-karya besar mereka setelah pengembaraan panjang yang melelahkan dalam menimba ilmu agama yang benar. Mereka selalu jujur dalam menuliskan ilmu yang mereka dapat, dan tak pernah berniat untuk mendapat royalti dari tulisannya karena mereka menulis liLlahi Ta’ala.

Lalu, bagaimanakah seharusnya agar tulisan kita tetap mengikuti jalan yang benar dan lulus? Rujuklah ilmu dari para ulama. Mereka adalah pewaris ilmu yang benar dari Rasulullah yang dapat dipertanggungjawabkan. Mereka telah meneliti dan menjelaskan ilmu-ilmu yang berasal dari Al-Quran dan Sunnah Nabi yang termaktub dalam berjilid-jilid karya agung yang siap kita santap sebagai bahan informasi dan gagasan kita. Ilmu merekalah yang perlu kita dalami dan sebarkan di masyarakat agar tulisan kita tidak hanya baik dalam penyajian namun juga memiliki isi yang baik.

semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat rumah kurma sahara

referensi : dakwatuna

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *