Mewariskan Amal Kebaikan Atau Keburukan

2016-03-11_7-55-47

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa dapat memberikan suri tauladan yang baik dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut dapat diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat untuknya pahala sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang mereka peroleh. Sebaliknya, barang siapa memberikan suri tauladan yang buruk dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa yang mereka peroleh sedikitpun.” [Shahih Muslim, 1017-15]

Keberuntungan hidup di dunia dan akhirat merupakan dambaan setiap mukmin. Kita ingin berjumpa dengan Allah dalam keadaan ridha dan diridhai. Deposito berharga yang dapat digunakan untuk menyelamatkan diri kelak di Akhirat, ditunjukkan Allah subhanahu wa ta’ala, melalui lisan Rasul-Nya, yaitu mendermakan sebagaian harta, menebar ilmu dan memperbanyak amal shalih.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ : مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ .

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan do’a anak yang shalih.” [HR. Muslim]

Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini mengajarkan, bahwa jika manusia meninggal dunia, maka segala amalnya terputus, kecuali tiga perkara yang dapat menyelamatkan dirinya, yaitu:

Pertama, sadaqah jariyah, yaitu wakaf yang kita berikan selama hidup di dunia, dan dapat bermanfaat bagi orang lain untuk beribadah dan menaati Allah subhanahu wa ta’ala.

Kedua, ilmun yuntafa’u bihi, yaitu ilmu yang bermanfaat yang diajarkan pada masyarakat, dan tetap bermanfaat setelah meninggal. Seperti dikatakan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib:

Ketiga, waladun shalih, yaitu anak yang shalih. Jika kita meninggalkan anak-anak yang shalih, baik anak itu mendo’akan kita setiap saat atau tidak, tapi keshalihan anak itu saja sudah menambah pahala yang terus menerus bagi orang tuanya. Maka jangan biarkan anak-anak kita berkubang dalam kehidupan pergaulan bebas, yang mengabaikan agama dan menuruti hawa nafsu belaka.

Seoomga artikel ini bermanfaat untuk sahabat rumah kurma sahara

referensi : arrahmah

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *