Merindukan Pemimpin Seperti Abu Bakar Dan Umar Bin Abdul Aziz

2016-10-08_10-37-46

Umar bin Abdul Aziz. Siapa yang tidak kenal Umar bin Abdul Aziz. Insan dengan sejarah menawan akan masa kepemimpinannya saat menjabat sebagai khalifah. Ia membalikkan 180 derajat keadaan hidupnya dari yang bermewah harta menjadi penuh dengan keterbatasan ketika dirinya diangkat sebagai khalifah. Ia juga yang dikenal sebagai khalifah yang mampu mengembalikan kesejahteraan umat Islam, hingga hampir saja pembagian zakat tak menemui si penerima karena kesejahteraan tiap muslim di kala itu. Ia juga yang menjadi penyelamat wajah Daulah Umayah di mana para raja berkuasa semena-mena dan perpecahan terjadi di mana-mana.

Tawadhu sendiri berasal dari wada’a yang berarti ‘merendahkan’. Tawadhu; merupakan perangai merendahkan kelebihan, menundukkan hati agar tidak menunjukkan ia lebih baik dari pada orang lain. Tawadhu berarti lawannya adalah riya, sombong dan ujub. Walau Sayyidina Abu Bakar Shiddiq merupakan salah seorang sahabat utama Rasulullah SAW dan sudah dijamin masuk surga, namun dalam pidatonya, Abu Bakar tidak merasa sebagai orang yang paling baik. Abu Bakar sadar bahwa sebagai seorang hamba dan makhluk ciptaan Allah, dia tidak sunyi dari memiliki kelemahan dan khilaf yang menjadi sifat utama makhluk Allah di bumi ini.

Karena itu untuk memimpin sekelompok umat, Abu Bakar perlu mempunyai teman yang mampu memberikan nasehat, mencetuskan ide-ide bernas, bahkan membuka hati dan minta untuk tetap memberikan teguran serta kritikan atas kinerja yang dicapainya. Andai saja sifat-sifat riya, sombong dan ujub yang menjadi pakaiannya, mana mungkin dia mau menerima ide atau pemikiran dan masukan dari orang-orang yang dipimpinnya. Apalagi untuk menerima teguran dan kritikan.

Begitu juga dengan Umar bin Abdul Aziz, tentu akan ada banyak karakteristik seorang mukmin yang bersemayam dalam diri Umar bin Abdul Aziz hingga dirinya ditaati sebagai pemimpin dan namanya tertera dalam daftar sejarah kebanggaan umat muslim. Termasuk salah satu di antaranya adalah sifat tawadhu’ beliau.

Jika sifat riya, sombong dan ujub dikekalkan, maka di antara akibat yang akan muncul adalah si pemimpin akan memimpin dengan hawa nafsunya sendiri. Rakyat akan di jadikan hamba abdi. Pemimpin seperti ini akan gila kekuasaan dan senantiasa minta disanjung dan dipuji. Lebih celaka lagi, rakyat akan dipimpin untuk memasuki ruang kehidupan melalui jalan-jalan maksiat sekaligus memprioritaskan program-program pembangunan yang memiliki muatan kemaksiatan. Karena itu tidak heran jika Allah dan Rasul-Nya mengisyaratkan bahwa sifat riya, sombong dan ujub merupakan penyebab utama lahirnya berbagai krisis dan persoalan bangsa, potensi yang membuat manusia terjerumus ke dalam kearogansiannya.

semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat rumah kurma sahara

referensi : dakwatuna

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *