Memakmurkan Masjid

2016-10-08_9-07-54

Setiap muslim (khususnya kaum laki-laki) wajib memakmurkan masjid-masjid Allah dengan berbagai ibadah dan ketaatan, karena padanya ada keutamaan. Dan Allah menyifati orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid-Nya sebagai orang-orang mukmin, sebagaimana dalam firman-Nya, “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah.

Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah : 18)

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kamu melihat orang rajin mendatangi masjid, maka persaksikanlah ia sebagai orang yang beriman.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan beliau menghasankannya serta yang lainnya. Didhaifkan oleh Syaikh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’ no. 509). Hadits ini dha’if, tetapi maknanya benar sesuai ayat di atas.

Mari kita mencintai masjid, memakmurkannya dan menjadikannya sebagai sarana untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah. Seseorang yang mencintai sesuatu pasti hatinya akan selalu terpaut pada hal tersebut.  “Ada 7 golongan orang yang akan dinaungi Allah yang pada hari itu tidak ada naungan kecuali dari Allah; salah satunya ialah seseorang yg hatinya selalu terpaut dengan masjid ketika ia keluar hingga kembali kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Masjid merupakan salah satu sarana pembinaan umat yang mendapat perhatian begitu besar dari Rasulullah Saw. Bahkan, ketika Rasul sampai di Madinah, bangunan pertama yang didirikan adalah masjid yang kemudian dinamai Masjid Nabawi. Oleh karena itu kita sebagai muslim semestinya kita memiliki perhatian dan kecintaan yang besar terhadap Masjid. Kecintaan yang besar kepada masjid akan membuat kita memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap pemakmurannya.

Penting untuk kita ingat bersama, bukan hanya tugas si penjaga masjid saja untuk memakmurkannya, kita pun wajib ambil bagian. Sedih sekali ketika mengetahui masjid yang jumlahnya banyak, namun minim jamaahnya. Sedih ketika mengetahui masjid hanya penuh diisi oleh segerombolan kakek sepuh yang cukup usia, hanya segelintir pemuda yang terliyat memadati pojokan masjid ataupun mushollah, ke mana para pemuda-pemudi dan muslim lainnya? Ironis, ketika pernah mendengar cerita dari kakek sepuh sekaligus takmir mushollah.

“Di Musholla ini Kakek yang adzan, kakek yang iqamat, kakek yang imam, sekaligus makmum”, Sungguh fenomena tersebut benar-benar ada dan banyak di berbagai musholla, khususnya di tengah kota yang jelas padat penghuni seorang muslim, di mana diri kita saat adzan berkumandang, panggilan cinta Allah memanggil kita?

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya : Dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bagian negeri yang paling Allah cintai adalah masjid-masjidnya, dan bagian negeri yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah).

semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat rumah kurma sahara

referensi : dakwatuna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *