Hujan Yang Menghidupkan Bumi

2016-03-12_1-58-18
Air memang banyak sekali manfaatnya, terlebih lagi air hujan. Hujan pada mulanya berasal dari air yang berada dipermukaan bumi seperti air laut, danau, sungai dan sebagainya yang tersinari matahari yang kemudian air tersebut menguap atau menjadi uap dan melayang ke udara yang akhirnya terus bergerak menuju langit yang tinggi bersama uap-uap air yang lain.

Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira. (Ar-Ruum: 48)

Seluruh makhluk sangat memerlukan air hujan yang diturunkan Allah. Tidak ada manusia yang dapat menurunkan hujan dengan kehendaknya sendiri. Karena dengan turunnya hujan Allah memberi minum kepada makhluk-makhluk-Nya di muka bumi dengan kadar izin dan ketentuan-Nya. Manusia sungguh beruntung karena air yang diturunkan Allah ini rasanya segar tidak asin,

Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? (Al-Waaqi’ah: 68-70)

Kedatangan hujan oleh Allah digambarkan sebagai menghidupkan bumi yang tadinya mati sehingga bumi itu menjadi segar dipenuhi dengan makanan minuman keperluan manusia. Kebanyakan manusia lalai dari bersyukur atas nikmat Allah berupa air yang sangat bermanfaat dalam kehidupannya ini.

Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak. Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu diantara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (dari padanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat). (Al-Furqan: 48-50)

semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat rumah kurma sahara

referensi : dakwatuna

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *