Belajar Untuk Memaafkan

2016-03-17_10-14-35

Maaf begitu sederhana diucapkan namun berat lagi memberatkan. Begitu mudahnya dibayangkan namun sangatlah sulit dilakukan, terlebih kepada para sukma yang telah terinfeksi baksil-baksil dendam. Betapa kita tahu keberagaman hati manusia berkaitan dengan aktivitas maaf-memaafkan ini, apakah kita termasuk dari orang yang tulus memberi maaf tanpa harus menunggu penyesalan dan permintaan maaf dari seseorang yang berbuat salah itu? Atau hati kita baru akan luluh setelah seseorang itu mengajukan sebuah kalimat “Maukah kamu memaafkan kesalahanku?” atau barangkali sampai seseorang itu menangis-nangis darahpun hati kita mengeras tidak akan sedikitpun memaafkan?

“Tetapi barangsiapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia”(QS Asy Syura 42:43)

Hakikatnya memaafkan itu memanglah sulit, terlebih kepada orang yang telah menyakiti, berbuat tidak adil, melecehkan, merobohkan kepercayaan, berbuat kekerasan dan pelbagai perlakuan keji lain yang menyebabkan meranggasnya luka di sekujur jiwa dan raga kita. Apalagi jikalau kesalahan itu dilakukan kepada kita secara sengaja dalam jangka waktu yang lama sampai berdampak buruk terhadap perkembangan mental, jiwa dan masa depan kita. Namun ketahuilah, rupanya malah jauh menyulitkan bila kita termasuk orang-orang yang pelit memberi maaf, jauh menyakitkan bila kita lebih memilih menghabiskan sisa hidup dengan terus-terusan meratapi perlakuan orang lain terhadap kita itu, tanpa sedikitpun berusaha untuk ikhlas, melupakan semuanya dan memulai untuk membuka lembaran baru, walaupun harus penulis sendiri akui bahwa mudah atau sulitnya memaafkan itu tergantung dari besar atau kecilnya kesalahan yang telah seseorang itu perbuat sendiri kepada kita.

Namun resapilah saudaraku, betapa merugi orang-orang yang gemar memelihara dendam, mereka umumnya justru menuai dampaknya sendiri, betapa tidak? Bukankan balas dendam hanya akan meneruskan rantai-rantai permusuhan? Balas dendam bisa jadi malah membuat kita menuai balas dendam darinya kembali, balas dendam lagi juga menuai balas dendam darinya lagi, begitu seterusnya. Dendam itu tidak akan berakhir tidak terkecuali salah satu dari kedua belah pihaknya sudi mengakhirinya dengan mengalah dan ikhlas memaafkan. Alangkah lebih baiknya bila kita serahkan semuanya pada sang Rahman, bukankah kita masih mempunyai MahaKasih? Bukankah selama kita masih memilikiNya sepatutnya kita harus tenang? La Takhof La Tahzan Innallaha Ma’ana, kita serahkan semua beban ini padaNya, jikalau Allah SWT mau dan sudi, pastilah suatu saat nanti Ia tak segan memberi ganjaran, atau lebih patutnya ganjaran yang membuat seseorang itu memperoleh Hidayah dan segera menyesali perbuatannya. Perbanyak istighfar dan tak letih komat-kamit berdoa menjadi salah satu jalan terapi bagi orang-orang yang terjangkit penyakit dendam.

Allah swt berfirman, “Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa. ” QS an-Nisaa’ [4]:149

semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat rumah kurma sahara

referensi : dakwatuna

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *