Bahagia Dengan Memelihara Silahturahmi

2016-10-17_6-40-51

Ketika orang membaca Al-Qur’an, memahaminya dengan akal dan merenunginya dengan hati, maka orang itu akan menemukan bahwa silaturahim bukanlah hal biasa. Menjaga hubungan baik dengan keluarga dan kerabat bukan sekadar perbuatan mulia yang bisa saja ditinggalkan. Tidak ada konsekuensinya dengan surga dan neraka.

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat.” [An-Nisa’: 36].

Dalam ayat ini birrul walidain dan silaturahim disebutkan  setelah perintah bertauhid kepada Allah Ta’ala dan larangan berbuat syirik. Dua hal yang sangat penting dan berat konsekuensinya. Hal itu menunjukkan bahwa birrul walidain dan silaturahim juga mempunyai konsekuensi yang berat. Rasulullah saw. juga bersabda:

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحمِ

“Berbuat dhalim dan memutus hubungan silaturrahim adalah dosa yang paling layak untuk Allah swt. segerakan siksaannya di dunia, sebelum siksaan yang disimpan sampai hari Akhirat.” [HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad].

Adanya rasa takut kepada siksaan Allah Ta’ala di dunia dan akhirat menunjukkan hidupnya hati. Hendaknya hal itu menjadi motivasi untuk selalu menjaga hubungan silaturahim.

semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat rumah kurma sahara

referensi : dakwatuna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *