Segala Nikmat Akan Di Pertanggung Jawabkan Di Hadapan Allah SWT

2016-05-28_5-41-40

Allah SWT berfirman:

Kemudian pada hari itu kalian benar-benar akan ditanya tentang nikmat itu (TQS at-Takatsur [102]: 8).

Ayat ini tentu sering kita baca atau kita dengar. Namun, entah mengapa, saat ayat itu dibacakan kembali oleh guru saya, Al-Mukarram KH Hafidz Abdurrahman, dalam suatu kesempatan halaqah, saya tersentak dan tersadar. Saat itu, beliau menceritakan, bahwa Baginda Rasulullah saw. itu sering dilanda rasa lapar karena seringnya beliau tidak mendapati makanan di rumahnya. Saat tak punya makanan di rumahnya, beliau pun berpuasa. Beliau tidak sedih atau galau karena ‘musibah’ rasa lapar itu. Lalu pada saat ada sahabat yang mengirim kurma kepada beliau, bukannya bergembira. beliau malah kelihatan sedih dan galau, seraya mengingatkan kembali ayat di atas.

Begitulah sikap Rasulullah saw. saat mendapatkan nikmat. Mengapa? Karena terkait nikmat yang Allah berikan kepada manusia, sekecil apapun, akan dimintai pertanggung-jawaban. Nikmat yang dimaksud tentu saja adalah seluruh kelezatan dunia (Lihat: As-Suyuthi, Durr al-Mantsur, X/337).

Sebaliknya, Allah SWT tidak akan meminta pertanggungjawaban atas musibah yang Dia timpakan kepada manusia. Karena itu Baginda Rasulullah saw. tidak bersedih karena suatu musibah yang menimpa.

Namun, kita memang jauh berbeda dengan Baginda Rasulullah saw. Kita sering amat sedih saat kenikmatan lepas dari diri kita dan terlalu bergembira saat kenikmatan itu menghampiri kita; lupa jika dengan kenikmatan itu kita akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti.

Terkait dengan nikmat pula, kita tentu sering diingatkan dengan sebuah sabda Baginda Rasulullah saw. sebagaimana dituturkan oleh Ibn Mas’ud ra., “Kaki anak Adam tidak akan bergeser di hadapan Rabb-nya pada Hari Kiamat nanti sebelum ditanya tentang lima perkara (yaitu): umurnya, bagaimana ia lalui; masa mudanya, bagaimana ia habiskan; hartanya darimana ia dapatkan dan bagaimana ia belanjakan; serta tentang apa yang telah ia amalkan dari ilmu yang ia miliki.” (HR at-Tirmidzi).

Dalam hadis lain penuturan Ibn Abbas disebutkan bahwa Baginda Rasulullah saw. pun pernah bersabda, “Ada dua nikmat yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia yaitu: nikmat sehat dan waktu luang.” (HR al-Bukhari).

Padahal, terkait nikmat kesehatan dan waktu luang, kita pun akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban: sejauh mana kesehatan dan waktu luang itu kita manfaatkan; apakah untuk kebaikan atau keburukan; apakah untuk memperbanyak amal salih atau amal salah; apakah untuk memperbanyak amal dakwah atau melulu untuk urusan ma’isyah; dst.

Bagaimana dengan nikmat harta? Terkait sedikitnya harta kita, ia tetap akan dipertanyakan dan dimintai pertanggungjawaban: darimana dan untuk apa? Apalagi jika harta kita berlimpah-ruah, tentu akan lebih banyak lagi pertanyaan Allah SWT kepada kita pada Hari Akhir kelak. Itulah mengapa, Baginda Rasulullah saw. pernah bersabda tentang Abdurrahman bin Auf ra., seorang sahabat yang kaya-raya, “Nanti Abdurrahman bin Auf (karena hartanya yang banyak, pen.) akan masuk surga dalam keadaan merangkak.”

Mendengar sabda Baginda Rasulullah saw. demikian, seketika Abdurrahman bin Auf ra. pun menyedekahkan seluruh hartanya (termasuk emas dan perak) yang diangkut dengan 700 ekor unta (berikut seluruh untanya itu). Padahal harta itu baru saja tiba di Madinah sebagai hasil berbulan-bulan ia berbisnis di luar Kota Madinah. Ia melakukan itu tidak lain karena sangat khawatir atas lamanya penghisaban Allah SWT atas dirinya di akhirat kelak karena hartanya yang melimpah itu.

semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat rumah kurma sahara

referensi : muslimahzone

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *