Ibadah Ritual dan Sosial Harus Seimbang

2016-03-19_7-32-58
Rajin ibadah saja, dalam pengertian ibadah mahdhoh, tidak cukup untuk menjadi Muslim yang baik.

Islam mengajarkan umatnya tentang keseimbangan hubungan dengan Allah SWT (Hablum Minallah) dan Hubungan dengan sesama manusia (Hablum Minan Nas).

Seorang Muslim tidak cukup rajin shalat, dzikir, baca Quran, dan ibadah ritual lainnya.Ia harus pula menjalin hubungan harmonis dengan orang lain –tetangga, rekan kerja, sahabat, kerabat, dan bahkan yang tidak dikenal.

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ

“Akan ditimpakan kehinaan kepada mereka kecuali mereka menjalin hubungan baik dengan Allah dan dengan sesama manusia” (QS. Ali Imran 3: 112).

Dalam sebuah hadits shahih tentang amal sholih (kebaikan), dari 7 jenis amal baik yang disebutkan Rasulullah Saw, lima di antaranya berkaitan dengan hablum minannas atau interaksi sosial.

Hal itu menunjukkan, Muslim yang baik bukan hanya rajin ibadah ritual, tapi juga suka ibadah sosial. Dalam istilah populer dikenal dengan “kesalehan sosial”, yakni kebaikan sikap terhadap sesama.

Bahkan Rasululullah Saw menegaskan:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Kaum mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” (H.R. Ahmad dan Tirmidzi).

Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengutip sebuah kisah menarik. Pada zaman Nabi Saw, ada seorang wanita yang rajin beribadah, puasa dan shalat malam, namun oleh Rasul Saw ia digolongkan sebagai ahli neraka (Hiya Fin Nar) karena hubungan dengan manusianya jelek alias berakhlak buruk –suka menyakiti tetangga dengan lisannya.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat rumah kurma sahara

referensi : risalahislam

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *