Sudahkah Menjadi Ahli Masjid

2016-04-05_6-17-55

Ciri Ahli Masjid

Lalu pada ayat berikutnya Allah swt berfirman, “Laki-laki (orang-orang) yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” Dari ayat ini disebutkan ciri-ciri ahli masjid, yaitu:

>> Mereka tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah.

>> Menegakkan shalat. Artinya, dalam kesibukan berdagang ia tetap menjaga shalatnya dengan menegakkannya di awal waktu berjamaah di masjid. Ini ditegaskan oleh Allah, karena banyak orang mengira bahwa dengan menghentikan rapat atau menutup toko untuk shalat seakan telah kehilangan waktu produktif. Dengan kata lain, seolah mengalami kerugian sekian persen dari penghasilannya. Padahal tidak demikian cara menghitung keuntungan dalam ketaatan kepada Allah.

Sungguh, dalam mentaati Allah ada keberkahan. Itu tidak bisa ditukar dengan angka keuntungan. Boleh jadi, seorang yang tidak shalat dapat keuntungan banyak, tetapi rezekinya tidak berkah sehingga cepat habis untuk kebutuhan-kebutuah yang tidak ada gunanya. Dan boleh jadi pula, orang yang mengutamakan shalat tidak mendapatkan keuntungan yang banyak secara angka, tetapi Allah berikan keberkahan dalam hidupnya sehingga apa saja yang ia butuhkan terpenuhi.

Karakter Bisnis Ahli Masjid

Ada dua  sikap yang dimiliki oleh ahli masjid sehingga mereka tidak dilalaikan oleh perniagaan.

1. Sekalipun mereka sibuk dengan perniagaan dan jual beli, itu semua tidak membuat mereka lalai kepada Allah swt. Mereka masih sempat membaca Al-Qur’an di sela-sela kesibukannya, masih sempat menghentikan rapatnya saat waktu shalat tiba, lidah mereka tetap bertasbih dan berzikir sepanjang melakukan transaksi.

Perniagaan adalah kegiatan yang paling mudah membuat manusia lupa kepada Allah swt. Namun para ahli masjid, pada saat melakukan kegiatan tersebut, selalu dalam kondisi ingat Allah. Dulu para sahabat, ketika mereka di pasar, sering kali saling mengingatkan di antara mereka sambil mengatakan, “Istaghfirillah” (bacalah istighfar kepada Allah), “Sabbihillah” (bertasbihlah kepada Allah), dan sebagainya.

2. Apa pun keuntungan haram yang mengiurkan dalam usaha perniagaan dan jual beli, para ahli masjid tetap ingat panduan Allah swt. Mereka lebih memilih yang halal sekalipun sedikit dan menjauhi yang haram sekalipun banyak dan menggiurkan. Mereka selalu berhati-hati dari cara-cara yang Allah haramkan, meskipun semua orang di sekitarnya telah berlomba-lomba menggunakan cara haram.

semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat rumah kurma sahara

referensi : ummi-online

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *