Perbaiki Niat Ketika Bekerja

2016-03-16_7-58-15

Niat adalah ruh bagi setiap amal, inti dan pondasinya. Suatu amal akan selalu mengikutinya. Jika niatnya benar, maka amalnya pun benar. Jika rusak niatnya, maka amalnya juga akan rusak. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan,” (HR. Bukhari I/3 no.1, dan Muslim III/1515 no.1907).Hadits ini tidak terbatas pada masalah ibadah saja, akan tetapi ia juga mencakup bab muamalah dan lainnya. Semua amalan dapat berubah posisinya karena faktor niat, dianggap sebagai ibadah dan amal shalih yang mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla atau sebaliknya.

Maka jika seorang muslim bekerja dengan niat mencari rezeki di bidang pendidikan, pertanian, peternakan, perdagangan, industri, kesehatan, ketrampilan atau selainnya, maka aktivitasnya itu akan dinilai sebagai ibadah. Begitu pula jika tujuannya adalah untuk menjaga diri dari hal-hal yang haram, mencukupkan diri dengan hal-hal yang halal, dan untuk menafkahi keluarganya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau tidaklah memberikan suatu nafkah yang diharapkan dengannya wajah Allah semata melainkan engkau akan diberi pahala atasnya, sampaipun sesuap makanan yang engkau masukkan ke dalam mulut istrimu,” (HR. Bukhari I/30 no.56, dan Muslim III/1250 no.1628, dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu).

Oleh karena itu, Islam menganjurkan pengusaha muslim agar memiliki orientasi yang sama dalam masalah ibadah dan muamalah. Dan hal itu tidak mungkin bisa dilakukan jika ia tidak mengikhlaskan apa yang ia lakukan karena Allah Azza wa Jalla semata, membebaskan diri dari penghambaan terhadap nafsu syahwat, harta, perhiasan, jabatan serta kenikmatan dunia yang lainnya.

semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat rumah kurma sahara

referensi : islampos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *