Larangan Bercanda Berlebihan

2016-05-17_6-18-34

Tak jarang pula sepotong canda membuat sebuah perpecahan yang sulit diperbaiki. Banyak sahabat yang menjauh dan pergi. Canda yang berlebihan yang dapat membuat salah penafsiran, sering merusak keceriaan di pagi hari, membuat keutuhan hari menjadi amat menjengkelkan.

Maka disini ada yang harus kita kembali sadari bahwa canda meski ringan, tapi ia adalah pilihan-pilihan sikap kita yang juga akan kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah. Ia juga menuntut kemawasan hati, pikiran, dan lisan sebelum semuanya terlanjur kita lontarkan.  Jika gumaman dan rintihan kita kepada diri sendiri saja ada hitungannya, apalagi canda kita kepada orang lain. Perkara canda ini masuk dalam bab muamalah, bab hidup paling berat dan yang paling sulit membersihkan dosanya. Bab ini adalah bab zalim dan tidak zalim, bab minta maaf dan memberi maaf.

Ini bukan tentang apa yang kita candakan dan apa yang kita maksudkan, melainkan lebih kepada apa yang akan orang lain tafsirkan. Kita tak selalu membersamai hari-hari orang yang kita candai pun pihak-pihak lain yang mendengar canda kita. Ada latar belakang yang berbeda dan ada hal-hal yang sering kali kondisinya jauh dalam jangkauan nalar kita. Maka, kita harus lebih bijak mempertimbangkan efek dari candaan itu. Mungkin canda itu terlontar begitu saja, namun ternyata ada akibat yang tidak kita prediksikan sebelumnya. Akibatnya dapat berkepanjangan dan membekas, kadang permintaan maaf tidak menyudahi sakitnya. Ini yang akan meminta amal kita di akhirat kelak.

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, dia tidak menyukai orang-orang zalim. Tetapi orang-orang yang membela diri setelah dizalimi, tidak ada alasan untuk menyalahkan mereka. Sesungguhnya kesalahan hanya ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapat siksaan yang pedih.Tetapi, barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia. Dan barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak ada baginya pelindung setelah itu. Kamu akan melihat orang-orang zalim ketika mereka melihat azab berkata,” Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?”  (QS. Asy Syura:40-44).

Bahkan para ulama memberi peringatan khusus kepada para pencari hadits dan para penghafal Al Quran terkait canda ini. Khatib Al Baghdadi rahimahullah berkata, “Hendaklah orang yang mencari hadits menjauhi sikap main-main, bergabung dalam majlis omong kosong, gelak tertawa, dan canda secara berlebihan. Sebab, yang diperbolehkan adalah canda ringan dan jarang-jarang dilakukan serta tidak keluar dari batasan etika dan ilmu. Adapun seseorang yang terus-menerus bercanda, berkata kotor, bertindak bodoh yang membuat sesak dada dan menimbulkan kejahatan, maka hal itu adalah tercela. Banyak canda dan tertawa akan menjatuhkan wibawa seseorang dan menghilangkan harga dirinya.

semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat rumah kurma sahara

referensi : muslimahzone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *