jangan menghabiskan waktu untuk menilai orang lain

2016-04-06_6-36-02

“WAHAI Syaikh,” ujar seorang pemuda. “Manakah yang lebih baik, seorang muslim yang banyak ibadahnya tetapi akhlaknya buruk ataukah seorang yang tak beribadah tapi amat baik perangainya pada sesama.”

“Subhaanallah, keduanya baik,” ujar sang Syaikh sambil tersenyum.

“Mengapa bisa begitu?”

“Karena orang yang tekun beribadah itu boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk berakhlak mulia bersebab ibadahnya. Dan karena orang yang baik perilakunya itu boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk semakin taat kepadaNya.”

“Jadi siapa yang lebih buruk?” desak si pemuda.

Airmata mengalir di pipi sang Syaikh. “Kita Anakku,” ujar beliau. “Kitalah yang layak disebut buruk sebab kita gemar sekali menghabiskan waktu untuk menilai orang lain dan melupakan diri kita sendiri.”

Beliau terisak-isak. “Padahal kita akan dihadapkan pada Allah dan ditanyai tentang diri kita, bukan tentang orang lain.”

Padahal, kecenderungannya seseorang yang kita anggap jahat itu justru orang yang dahulunya telah memberikan kebaikan begitu besar. Hanya saja, akibat sesuatu hal yang tidak kita ketahui, orang tersebut berbalik berbuat jahat. Bisa jadi, justru tanpa kita sadari ada kejahatan yang telah kita lakukan tanpa sengaja hingga mendorongnya berbuat kejahatan untuk membalas sakit hati. Jadi, pelajaran pokok yang harus kita ambil ialah jangan menghabiskan waktu untuk menilai orang lain dan melupakan diri kita sendiri.

Ketika seseorang berbuat buruk, coba ingat-ingat hal buruk apa yang pernah kita lakukan padanya. Bisa jadi tidak secara langsung, misalnya kita membocorkan rahasia pribadinya yang telah dipercayakan pada kita kepada orang lain, padahal itu adalah aib yang hanya diamanahkan kepada kita untuk diberikan solusi. Kemudian, aibnya yang kita ceritakan itu tersebar, lalu dirinya sadar telah salah mempercayakan rahasia pribadinya kepada kita.

Waspadalah, bila hal itu terjadi, akan terasa begitu menyakitkan. Dikhianati oleh orang yang dipercaya itu jauh lebih sakit daripada ditimpa masalah seberat apa pun, sebab ada cinta yang melatarbelakanginya. Cinta itu bisa mendamaikan, tetapi saat kedamaian itu digaduhkan dengan dusta, niscaya akan menimbulkan dendam yang tak ada habis-habisnya kecuali seseorang yang telah didustai menyadari bahwa tanggungjawab memberi maaf itu datangnya dari Allah sehingga tak ada alasan untuk mengeluh tidak sanggup memaafkan.

semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat rumah kurma sahara

referensi : islampos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *