Akhirat Adalah Tujuan Akhir

2016-05-01_6-21-29

semua orang yang beriman meyakini bahwa dunia tiada kekal, akhiratlah negeri yang kekal. Namun karena pesona dunia, begitu banyak yang tertipu dan berlomba-lomba mengejar dunia dan melalaikan akhirat.

Syukur-syukur bila uang tersebut didapatkan secara halal, namun siapa yang bisa menjamin semuanya halal. Selalu terbuka peluang lebar, uang tersebut didapatkan secara haram dari berbagi praktek kejahatan, semisal korupsi, judi atau lainnya. Siapa yang peduli? Toh, segala kemewahan itu layak buat siapapun yang punya uang, tentunya.

Begitulah, gempita hedonisme terus dikumandangkan, utamanya lewat aneka media yang tampil menggoda. Tak cuma tawaran hunian, tawaran kendaraan mewah atau perjalanan wisata keliling dunia menghiasi beragam media kita. Celakanya tak sedikit yang terbuai dan akhirnya menghalalkan segala cara demi kemewahan semacam itu. Batasan halal haram menjadi teramat samar.

Menariknya dunia

Dalam kesibukan mengejar dunia, terkadang orang lupa bahwa suatu ketika hidup ini akan berakhir. Semua, tanpa terkecuali, tengah menapaki hari menuju negeri akhirat. Tak sekedar lupa, bahkan sebagian mengingkari adanya negeri yang kekal. Pengingkaran ini jelas menimbulkan kerusakan pada pribadinya, masyarakatnya juga lingkungannya. Orang semacam itu berpendapat bahwa dunia adalah satu-satunya bentuk kehidupan, maka segala upayanya selalu ditujukan untuk mencari dunia.  Halal haram, jelas tak masuk hitungannya. Bila tiada lagi batasan, boleh jadi rasa kemanusiaan pada sesama juga hilang. Maka banyak korban yang mungkin berjatuhan demi kepentingan pribadinya.

Islam telah mengantisipasi hal ini, misalnya dengan menekankan urgensi percaya pada hari akhir. Bahkan tercantum sebagai salah satu dari enam rukun iman. Tanpa keyakinan ini, seseorang tidak bisa disebut beriman.

Keyakinan pada keberadaan akhirat, tentang siksa, pahala, surga, neraka dan sebagainya, akan menimbulkan dampak yang teramat besar pada diri seorang muslim. Keyakinan pada balasan di akhirat atas apa yang telah dikerjakan di dunia membuat seorang muslim, mau tak mau, harus berkomitmen pada jalan dan aturan yang telah ditetapkan Allah. Komitmen semacam ini tentu akan membawa kebaikan pada diri, juga pada masyarakat sekitar. Akan tercipta suatu keteraturan yang membawa kebaikan pada manusia sendiri semasa di dunia dan akhirat kelak.

Mukmin bersikap

Keindahan dunia yang hanya bersifat sementara ternyata hanyalah sebuah ujian dari Allah kepada hamba-hambanya. Tidak selayaknya seorang yang beroleh kemegahan hidup menjadi lupa diri. Sebaliknya, mereka yang hidup sengsara menyesali hidup habis-habisan. Sesungguhnya semua adalah ujian. Dunia bukan satu-satunya hal yang harus kita kejar. Karenanya sangatlah bijak do’a yang diucapkan Ali bin Abi Thalib, “Ya Allah, jadikanlah dunia itu dalam genggaman tangan kami. Dan jangan jadikan dunia dalam hati kami.”

semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat rumah kurma sahara

referensi : ummi-online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *