Kejujuran adalah pangkal dari kemuliaan

2016-04-02_7-19-23

setiap kali sebuah sekolah mengadakan ujian kelulusan untuk siswanya, maka sesungguhnya ada ujian yang lebih besar yang ketika itu juga sedang dijalani, yaitu ujian kejujuran. Karena ada sekolah yang demi menjaga nama baik, prestise sekolahnya, maka melakukan rekayasa sehingga pada ujian tersebut siswanya lulus semua.

Ingin semua siswanya lulus, ingin nama baik sekolahnya terjaga, ini adalah hal yang wajar. Akan tetapi jika ditempuh dengan langkah ketidakjujuran, maka ini sesungguhnya masalah. Hasil ujian mungkin belum diumumkan, namun sekolah yang demikian sudah pasti tidak lulus dalam urusan yang lebih besar yaitu urusan kejujuran. Mengapa ini menjadi penting? Bayangkan saja, demi kelulusan semua siswanya, lembaga pendidikan rela melakukan ketidakjujuran!

Padahal kejujuran itu fondasi akhlak. Rosululloh Saw. sejak masih belia, dikenal oleh masyarakat di sekitarnya bukan karena kegantengan, kekayaan, kepintaran atau kekuatannya, melainkan karena kejujurannya. Sehingga masyarakat memberikan gelar kepada beliau sebagai Al Amiin, orang yang jujur terpercaya. Setiap perkataan terjamin kebenarannya, setiap tindakan jauh dari keburukan, setiap janji dipenuhi dan amanah ditunaikan dengan baik.

Ketika Rosululloh Saw. muda berbisnis, maka bisnisnya jauh dari kecurangan. Sehingga banyak para pemilik modal yang bersuka cita menanamkan modalnya kepada beliau. Demikian juga para pembeli, senang berbelanja kepada beliau karena kejujurannya.

Rosululloh Saw. bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Dan terus-menerus seseorang berlaku jujur dan memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Alloh sebagai orang yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa kepada kedurhakaan, dan durhaka itu membawa ke neraka. Dan terus menerus seorang hamba itu berdusta dan memilih yang dusta sehingga dicatat di sisi Alloh sebagai pendusta”. (HR. Bukhori, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)

semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat rumah kurma sahara

referensi : smstauhiid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *