Menshalihkan Diri Sendiri Saja Tidak Cukup, Harus Juga Menshalihkan Orang Lain

2016-04-07_6-55-59

“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: ‘Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?’ Mereka menjawab: ‘Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.’ Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.

(QS Al A’raaf [7]: 164-165)

Ada tiga kelompok manusia.

Pertama, orang-orang yang rajin berbuat kemungkaran, kemaksiatan, dan kezaliman. Tidak ada keburukan yang terjadi di lingkungan sekitarnya kecuali mereka memiliki andil di dalamnya.

Kedua, orang-orang yang melarang dan mencegah semua bentuk kemungkaran dan kemaksiatan. Hatinya tidak pernah merasa nyaman ketika di lingkungan sekitarnya merebak beragam keburukan sehingga mereka selalu tergerak untuk mencegah tersebarnya keburukan tersebut.

Ketiga, orang-orang yang masa bodoh dengan beragam keadaan negatif di sekitarnya. Mereka hanya cari selamat sendiri dan tidak mau dianggap ‘usil’.  Berbagai kemungkaran dan kemaksiatan yang ada di lingkungannya disikapi dengan diam seribu bahasa.

Dikisahkan, tiga kelompok manusia ini muncul di tengah-tengah kaum Bani Israel ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu yang seharusnya khusus untuk beribadah. Hari itu mereka tidak boleh bekerja dan menjala ikan. Namun, mereka menyiasatinya dengan meletakkan jala di hari Sabtu, lalu mengambil ikannya pada hari Ahad (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir II/369-370). Dengan begitu, mereka menganggap bahwa mereka tidak melanggar aturan. Mereka ini adalah representasi kelompok pertama.

Sebagai antitesis dari kelompok pertama, tampillah sekelompok orang dari mereka memberi nasehat dan mengingkari cara mereka yang ‘menipu’ Allah dan mencegah mereka dari berbuat kemungkaran. Mereka adalah kelompok kedua,  orang-orang shalih yang mushlih (menshalihkan orang lain).

Tapi nyatanya, tidak semua orang setuju melihat orang lain aktif menyuarakan kebenaran. Sikap inilah yang ditunjukkan oleh kelompok ketiga dengan mengomentari tindakan kelompok kedua, “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?”  Dalam bahasa kita, “Buat apa repot-repot menasehati pelaku maksiat itu, toh nanti mereka juga akan Allah siksa dan hancurkan.” Kelompok ini adalah orang-orang shalih yang pasif. Ingin cari selamat sendiri dan tidak peduli dengan kemungkaran yang terjadi di sekitarnya.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk sahabat Rumah Kurma Sahara

referensi : Ummi-online

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *