Anjuran Untuk Melaksanakan Ibadah Haji

Wahai Sahabat Rumah Kurma Sahara, pujilah Allah Ta’ala yang telah memanjangkan umurmu, sehingga kamu dapat mengikuti pergantian hari dan bulan. Apabila kamu mempunyai kemampuan, maka bersegeralah menunaikan ibadah haji ke Baitullah baik haji wajib ataupun haji sunnah. Firman Allah Ta’ala,

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 97)

Firman Allah Ta’ala,

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلهِ

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah [2]: 197)

Firman Allah Ta’ala,

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh,” (QS. Al-Hajj: 27)

Wahai para hamba Allah, haji adalah salah satu rukun Islam yang lima, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, menunaikan haji, dan puasa Ramadhan.” (Muttafaq Alaih)

Muslim yang mampu wajib untuk bersegera menunaikan ibadah haji agar ia tidak berdosa, sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

تَعَجَّلُوا إِلَى الْحَجِّ يَعْنِي الْفَرِيضَةَ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِي مَا يَعْرِضُ لَهُ

“Bersegeralah menunaikan ibadah haji karena salah seorang di antara kamu tidak mengetahui apa yang akan menimpa dirinya.” (HR. Ahmad)

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Sabith, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَحُجَّ حَجَّةَ اْلإِسْلاَمِ لَمْ يَمْنَعْهُ مَرَضٌ حَابِسٌ أَوْ حَاجَةٌ ظَاهِرَةٌ أَوْ سُلْطَانٌ جَائِرٌ، فَلْيَمُتْ عَلَى أَيِّ حَالٍ شَاءَ يَهُوْدِيًّا أَوْ نَصْرَانِيًّا

“Barangsiapa yang tidak menunaikan ibadah haji Islam (haji wajib), tidak dikarenakan terhalang oleh penyakit yang mencegahnya dari berhaji, atau penguasa zhalim, atau kebutuhan yang harus dipenuhi, maka kepadanya dipersilakan untuk mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu mengatakan, “Sungguh aku berkeinginan untuk mengutus orang-orang ke beberapa kota, untuk melihat orang yang mempunyai kemampuan tetapi belum menunaikan ibadah haji, maka hendaknya mereka diminta untuk membayar jizyah, karena mereka bukan muslim, meraka bukan muslim.” (HR. Al-Baihaqi)

Wahai Sahabat Rumah Kurma Sahara, wajib bagimu untuk bersegera menunaikan ibadah haji yang agung ini, karena segala sesuatunya telah dimudahkan oleh Allah Ta’ala. Janganlah setan menghalangi langkahmu, janganlah engkau menundanya, dan janganlah angan-angan melupakanmu untuk melaksanakannya.

Bertanyalah pada dirimu sendiri, “Sampai kapan anda menunda pelaksanaan haji? Siapa yang tahu di mana Anda tahun depan, apakah masih di atas tanah ataukah di dalam tanah?”

Renungkanlah keadaan para pendahulu kita, bagaimana mereka menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki selama berbulan-bulan untuk sampai ke Ka’bah. Sebagian manusia digoda setan dengan berbagai macam alasan yang sepele.

Mereka menunda haji dari tahun ke tahun dengan alasan cuaca yang sangat panas dan keadaan manusia yang saling berdesak-desakan di tanah suci. Pernahkah dalam sejarah haji, di mana keadaan tanah suci seperti yang dia harapkan?

Sahabat Rumah Kurma Sahara, haji mempunyai keutamaan yang agung dan pahala yang besar, karena memadukan antara ibadah badaniyyah (badan) dan maliyyah (harta). Dikatakan ibadah badaniyyah karena ibadah haji penuh dengan kesulitan, keletihan, kepayahan, serta berjalan dan berhenti pada suatu tempat. Dikatakan ibadah maliyyah karena ibadah haji mengharuskan orang untuk mengeluarkan sejumlah uang dalam menunaikannya.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barangsiapa melaksanakan haji di rumah ini (Baitullah Al Haram), tidak berbuat rafats[1] dan tidak berbuat fasik[2], maka dia kembali seperti pada hari dilahirkan ibunya.” (Muttafaq Alaih)

Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu meriwayatkan, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ditanya, “Amal apakah yang lebih utama?” Beliau bersabda, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Lalu beliau ditanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau bersabda, “Berjihad di jalan Allah.” Lalu beliau ditanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau bersabda, “Haji yang mabrur.” (HR. Al-Bukhari)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruh untuk membekali diri dengan ketaatan dan mengikutsertakan antara haji dan umrah, sebagaimana melalui sabdanya,

تَابِعُوْا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوْبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجِّ الْمَبْرُوْرِ ثَوَابٌ دُونَ الْجَنَّةِ

“Ikutilah antara haji dan umrah, sungguh keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana alat peniup pandai besi menghilangkan kotoran yang melekat pada besi, emas, dan perak, dan tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan An-Nasa`i)

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

اَلْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Satu umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya. Haji yang mabrur itu tidak ada balasannya melainkan surga.” (HR. Muslim).

Bergembiralah wahai orang yang melakukan wukuf di Arafah, karena pada hari itu segala dosa dan kesalahan diampuni, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيْهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ

“Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka dari pada hari Arafah.” (HR. Muslim)

Maka bahagiakanlah jiwamu, sejukkanlah pandangan matamu, bersiaplah untuk berjumpa dengan Allah Ta’ala dan isilah waktu-waktumu dengan sesuatu yang akan mendatangkan manfaat bagimu di akhirat kelak. Karena semua itu akan membahagiakanmu pada hari di mana harta dan anak tidak akan ada manfaatnya.

Hari itu lembaran-lembaran catatan amal beterbangan, hati manusia gemetar dan ketakutan, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras.

Sangat disayangkan, sebagian manusia menghabiskannya pada sepuluh hari bulan Dzhulhijjah dengan mengeluarkan banyak uang, untuk sekedar bertamasya atau melancong, dan menahan dirinya dari menunaikan ibadah haji.

Wahai Sahabat Rumah Kurma Sahara, beramallah untuk urusan duniamu dan akhiratmu selagi hidup di alam dunia. Janganlah menundanya, karena kematian menghadang di depanmu, penyakit siap menghampirimu, dan kesibukan selalu membuntutimu. Minta tolong dan bertawakkallah kepada Allah, dan jadilah orang-orang yang bersegera menyambut panggilan-Nya pada tahun ini.

Adapun bagi orang yang belum berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji, maka hendaknya bersikap sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang salafus-shalih, “Barangsiapa yang tahun ini tidak berkesempatan untuk melakukan wukuf di Arafah, maka hendaknya ia melaksanakan hak Allah yang ia ketahui.

Barangsiapa yang tidak mampu bermalam di Muzdalifah, maka hendaknya ia menguatkan tekadnya untuk taat kepada Allah, dengan demikian sungguh ia telah mendekat kepada-Nya.

Barangsiapa tidak bisa menyembelih hewan kurban di Mina, maka hendaknya ia menyembelih hawa nafsunya di negerinya, dengan demikian ia telah mendapatkan apa yang diharapkannya.

Barangsiapa yang belum sampai ke Baitullah dikarenakan jarak yang jauh, maka hendaknya ia menghadap wajah kepada Tuhannya, karena Dia lebih dekat kepada orang yang memohon kepada-Nya dari urat nadinya sendiri.”

Ya Allah, tolonglah kami untuk dapat mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan melaksanakan ibadah terbaik kepada-Mu. Ya Allah, tolonglah orang-orang yang menunaikan haji dan umrah, dan limpahkanlah keberkahan kepada kami dari semua amal shalih yang telah kami lakukan.

__________________________

[1] Rafats berarti melakukan hubungan suami isteri pada waktu ihram, dan hal-hal yang mendorong ke arah itu, baik berupa perkataan maupun perbuatan (red).

[2] Fusuq atau berbuat fasik adalah semua bentuk kemaksiatan (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *